Sepanjang 2016, Pelaku Usaha Raup Rp90 Triliun dari Pasar Modal

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 18 Oct 2016 19:14 WIB
pasar modal
Sepanjang 2016, Pelaku Usaha Raup Rp90 Triliun dari Pasar Modal
Illustrasi. ANTARA Rosa/Panggabean.

Metrotvnews.com, Medan: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sepanjang ‎2016, pelaku usaha di Indonesia telah memperoleh dana sekitar Rp90 triliun dari pasar modal melalui berbagai skema. Dana tersebut mungkin tidak bisa hanya dipenuhi oleh sektor perbankan atau perusahaan pembiayaan saja.

Angka itu didapatkan dari hasil IPO, penerbitan right issue, obligasi maupun sukuk. Dari hasil IPO, sebanyak 12 emiten baru ‎yang menerbitkan saham dengan total dana hasil penawaran umum sebesar Rp10,7 triliun.‎ Sedangkan penerbitan right issue, obligasi maupun sukuk dengan total dana yang diperoleh melalui pasar modal selama tahun 2016 sebesar Rp79,14 triliun.

Baca : OJK: Pasar Modal Sumber Dana untuk Proyek Infrastruktur Jangka Panjang

"Oleh karena itu pemanfaatan penggalangan dana melalui penawaran umum di pasar modal merupakan bentuk pembiayaan lain yang patut dipertimbangkan," ucap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida, ‎d‎itemui di Hotel Grand Aston, Medan, Selasa (18/10/2016).

Dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum, menurut Nurhaida, biasanya dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, baik pembangunan pabrik baru maupun untuk penambahan modal kerja perusahaan.

Melalui pengembangan usaha tersebut, Emiten dapat meningkatkan kinerja keuangannya, yang kemudian dapat meningkatkan operasional dan keuntungan serta memperluas lapangan usaha dan pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Masih banyaknya dana segar yang bisa didapatkan dari pasar modal. Oleh karena itu, OJK terus mendorong pelaku industri khususnya di daerah memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan dalam pengembangan usahanya.

"Kesempatan memperoleh pendanaan dari pasar modal belum dimanfaatkan secara optimal. Secara demografi, pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pendanaan masih didominasi oleh perusahaan yang berdomisili di DKI Jakarta dan sekitarnya," ujar Nurhaida.

Salah satu dorongan untuk meningkatkan kinerja pasar modal, OJK melakukan sosialisasi ke berbagai daerah, salah satunya daerah Sumatera Utara. Semakin banyak perusahaan di daerah yang melakukan IPO, maka akan meningkatkan perekonomian daerah dan mendorong munculnya sentra-sentra ekonomi yang lebih menyebar, tidak hanya terkonsentrasi di daerah tertentu.

Untuk Provinsi Sumatera Utara, saat ini baru terdapat enam perusahaan yang telah memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, baik dari penerbitan saham maupun obligasi, yaitu PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU), PT Bank Sumut, PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD), PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo I, PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) dan PT Atmindo Tbk (AMIN).

Pendanaan melalui pasar modal, sambung Nurhaida, memiliki nilai tambah tersendiri bagi dunia usaha pada khususnya maupun masyarakat secara umum. Pasar modal mempertemukan langsung kelebihan dana pada masyarakat dengan kebutuhan dana oleh perusahaan, sehingga diharapkan biaya modal (cost of fund) pendanaan dari pasar modal akan lebih rendah.

"Dengan masuknya perusahaan ke pasar modal dapat meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan, meningkatkan image atau reputasi perusahaan, bahkan dapat memperoleh insentif pajak," tutup Nurhaida.



(SAW)