Tiga Bulan, Investor Pasar Modal di Solo Tumbuh 5,5%

Pythag Kurniati    •    Kamis, 20 Apr 2017 18:01 WIB
pasar modal
Tiga Bulan, Investor Pasar Modal di Solo Tumbuh 5,5%
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Solo: Jumlah investor pasar modal di Kota Solo dan kabupaten sekitarnya tumbuh sebesar 5,5 persen selama kurun waktu tiga bulan (Desember 2016-Maret 2017).

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Yogyakarta Irfan Noor Riza di Kota Solo, Jawa Tengah. Per Desember 2016, jumlah investor pasar modal di kawasan Solo dan kabupaten sekitarnya  kurang lebih 18 ribu orang.

"Kemudian Maret 2017 lalu, jumlah investor pasar modal tercatat sekitar 19 ribu orang," ungkap Irfan saat ditemui di Kantor Otoritas Jasa Keuangan Kota Solo, Kamis 20 April 2017.

Dibandingkan Yogyakarta, lanjutnya, jumlah investor di Kota Solo terpaut jauh. Di Yogyakarta, per awal 2017 jumlah investor pasar modal mencapai 26 ribu.

Namun dalam hal transaksi pasar modal, Solo Raya mencatatkan tren positif. Angka transaksi pasar modal Kota Solo dan kabupaten sekitarnya bahkan melampaui Yogyakarta yang memiliki 26 ribu investor pasar modal.




"Transaksi per bulan (pasar modal) di Yogyakarta sebanyak Rp435 miliar. Sedangkan per bulan, Surakarta mencatat angka transaksi Rp1,05 triliun di pasar modal," tutur dia.

Namun dari segi jumlah investor, kata Irfan, masih perlu peningkatan. Ia menargetkan setidaknya 10 persen dari penduduk di Kota Solo dan kabupaten sekitarnya bisa berinvestasi di pasar modal. Melihat potensi besar di Surakarta, Bursa Efek Indonesia akan mendirikan kantor perwakilan di Kota Solo, Jawa Tengah. Peresmian BEI Kanwil Solo dilakukan Jumat 21 April 2017.

"Kantor perwakilan yang berdiri di Solo adalah kantor perwakilan ke-26 di seluruh Indonesia. Kami akan lakukan kegiatan seperti edukasi publik, sekolah pasar modal dan lain sebagainya," tutur Irfan.

Kepala Bagian Pengaturan Lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal OJK Farhan Nugroho mengungkapkan, edukasi mengenai pasar modal perlu diperluas. Mengacu angka survey nasional OJK, tingkat literasi keuangan khusus untuk pasar modal jumlahnya masih sangat kecil.

"2013 tingkat literasi keuangan pasar modal 3,79 persen. Kemudian di 2016 menjadi 4,4 persen. Meskpun naik namun jumlahnya masih terpaut jauh dengan literasi perbankan yang mencapai 29 persen di 2016," papar Farhan.

Sedangkan untuk angka penggunaan produk pasar modal tercatat sebanyak 0,1 persen di 2013 dan 1,25 persen pada 2016. "Angkanya jauh bila dibandingkan angka penggunaan produk perbankan yakni 63,6 persen di 2016," pungkas dia.

 


(AHL)