Rupiah Berpotensi Alami Pelemahan Lanjutan

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 08 Aug 2017 09:37 WIB
kurs rupiah
Rupiah Berpotensi Alami Pelemahan Lanjutan
Ilustrasi (MI/SUSANTO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai mata uang dolar Amerika Serikat (USD) yang menguat di pasar valuta asing global dikhawatirkan dapat menghalangi po‎tensi kenaikan nilai tukar rupiah. Alhasil, nilai mata uang Garuda rentan mengalami pelemahan lanjutan.

"Kurang kuatnya sentimen yang ada untuk mengangkat rupiah serta masih rendahnya animo pelaku pasar membuat rupiah kembali tertekan.‎ Nilai USD yang masih menguat membuat rupiah juga bisa kembali tertekan," ucap Analis Senior PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada‎‎, dalam riset hariannya, Selasa 8 Agustus 2017.

Dengan adanya proyeksi lanjutkan pelemahan, Reza memperkirakan, mata uang rupiah akan bergerak di kisaran support Rp13.330 per USD, dan posisi resisten akan berada di Rp13.309 per USD. "Tetap mewaspadai berbagai sentimen yang dapat menahan penguatan rupiah tersebut dan membuat rupiah kembali melanjutkan pelemahan," terang Reza.

Adanya rilis pertumbuhan GDP, lanjut Reza, tampaknya kurang kuat mengangkat rupiah. Karena, rupiah masih cenderung melanjutkan pergerakan sideways-nya. Kemungkinan reaksi pelaku pasar sama seperti di pasar saham.

"Di mana mereka cenderung pesimis dan bahkan mengabaikan rilis angka GDP tersebut karena dianggap di bawah perkiraan pasar," terang Reza.

Bahkan, masih kata Reza, rilis kenaikan cadangan devisa pun tidak banyak membantu mengangkat gerak rupiah. ‎Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juli 2017 sebesar USD127,76 miliar. Pencapaian ini lebih tinggi USD4,67 miliar dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2017 yang sebesar USD123,09 miliar.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds pemerintah, penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

"Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Agusman.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2017 tersebut cukup untuk membiayai 9,0 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.


(ABD)