Berinvestasi Reksa Dana di Tengah Fluktuasi Rupiah

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 05 Nov 2018 15:49 WIB
danareksa
Berinvestasi Reksa Dana di Tengah Fluktuasi Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

Jakarta: Memasuki kuartal IV-2018, kondisi nilai tukar rupiah masih melemah lebih dari 10 persen. Intervensi Bank Indonesia (BI) melalui cadangan devisa dan menaikkan tingkat suku bunga acuan dipandang tidak terlalu ampuh dalam menjaga nilai tukar rupiah pada posisi yang ideal. Namun, untungnya kinerja perusahaan-perusahaan yang terdapat di bursa masih dapat berada pada teritori positif.

Chief Investment Officer PT Danareksa Investment Management (DIM) Edwin Ridwan mengatakan sektor-sektor yang bisnisnya banyak melakukan ekspor mengalami kenaikan penerimaan positif dari pelemahan nilai tukar. Kemudian sektor keuangan, spesifik emiten perbankan, juga mendapatkan tren positif, didukung oleh kenaikan tingkat pinjaman kredit perbankan pada tahun ini.

Sementara dari pergerakan indeks domestik, saham-saham dalam sektor keuangan dan konsumer bergerak positif pada 2016 dan 2017 membukukan pergerakan positif rata-rata 30-40 persen. Sedangkan indeks LQ45 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masing-masing tumbuh di angka 36 persen dan 38 persen.

Namun, di awal 2018 sampai kuartal III-2018, indeks LQ45 turun sebesar 12 persen, lebih dalam dari IHSG turun enam persen. Investor asing melakukan aksi jual dalam jumlah besar pada periode tersebut sampai dengan Rp40 triliun penjualan bersih.

"Ini membuat nilai saham-saham kapitalisasi besar, terutama yang ada di dalam indeks LQ45, memiliki nilai yang lebih atraktif di awal kuartal IV-2018 ini. Untuk investor dalam negeri, bisa melihat kondisi ini sebagai kesempatan baik untuk mulai secara bertahap menempatkan dananya pada reksa dana saham," ungkap Edwin dalam keterangan resminya, Senin, 5 November 2018.

Sedangkan perusahaan dengan basis ekspor yang baik dan perbankan yang membukukan kinerja positif dari kenaikan pinjaman tahun ini akan menjadi pilihan dalam portofolio.

"Sektor konsumer yang selama ini bergerak negatif, menjadi salah satu pilihan juga menjelang adanya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang fokus pada subsidi dan dana desa, serta momentum Pemilu Presiden 2019," kata Edwin.

Lalu, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran di atas lima persen tertolong oleh membaiknya konsumsi masyarakat. Selain konsumsi, belanja pemerintah yang fokus pada infrastruktur turut mendongkrak perekonomian Indonesia.

Kondisi Indonesia saat ini, sambung dia, tergolong baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang masuk dalam kategori negara berkembang, karena masih dapat membukukan pertumbuhan ekonomi di atas tahun lalu pada saat negara berkembang lain seperti, Turki dan Argentina mengalami kontraksi dalam ekonominya.

Investor pun, dia menambahkan, mulai melakukan penyesuaian portofolio yang selama ini menikmati pertumbuhan positif di negara berkembang, akhirnya mulai melakukan penambahan investasi ke negara maju dari negara berkembang. "Namun, kami nilai situasi ini tidak akan terus-menerus, di mana pada saat ini kalau kita ukur valuasi AS membukukan angka yang relatif tinggi sejak 2011," pungkas dia.

 


(AHL)


Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

9 hours Ago

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang sejak 1 Februari 2014 berhenti beroperasi akibat k…

BERITA LAINNYA