Moratelindo Resmi Catat Obligasi Rp1 Triliun

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 07 Dec 2017 11:50 WIB
emiten
Moratelindo Resmi Catat Obligasi Rp1 Triliun
Moratelindo Resmi Catat Obligasi Rp1 Triliun. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan)

Jakarta: PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) mencatatkan surat utang perdana Obligasi I Moratelindo Tahun 2017 senilai Rp1 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI). Obligasi ini mendapat peringkat idA (Single A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Masa penawaran telah berlangsung pada 3-15 November 2017. Hal itu mendapat tanggapan positif dari investor yang kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga sekitar 1,4 kali.

Direktur Utama Moratelindo Galumbang Menak mengatakan era digitalisasi yang telah merambah hampir seluruh lini ini menjadikan bisnis penyedia infrastruktur telekomunikasi sangat menjanjikan. Makanya, perusahaan menerbitkan ‎obligasi.

"Di luar negeri, market cap terbesar 1-10 dikuasai oleh perusahaan digital. Maka saya yakin, satu sampai lima tahun ke depan, market cap Indonesia juga akan dikuasai oleh perusahaan digital, salah satunya Moratelindo," kata Galumbang, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Kamis, 7 Desember 2017.

Obligasi yang diterbitkan perusahaan terdiri dari dua seri. Seri A sebesar Rp540 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,9 persen serta memiliki tenor tiga tahun. Sedangkan obligasi seri B sebesar Rp460 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 10,5 persen dengan tenorlia tahun.

Sebagai penjamin emisi obligasi perseroan telah menunjuk PT Bahana Sekuritas, sedangkan PT Bank Mega Tbk diamanatkan menjadi Wali Amanat. "Kesuksesan penawaran obligasi perdana kami tidak terlepas dari track record yang baik, proyeksi arus kas yang kuat, dan pengalaman di industri telekomunikasi," jelas Galumbang.

Seluruh dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini setelah dikurangi biaya emisi, sebesar 90 persen digunakan untuk kebutuhan investasi tahun depan. Adapun sisanya 10 persen akan dialokasikan sebagai modal kerja.

"Tahun depan belanja modal perseroan Rp900 miliar dari obligasi ini, dan tidak menutup kemungkinan jika ada peluang bisnis maka bisa melakukan pinjaman perbankan," pungkas Galumbang.


(AHL)