Pengadaan Lahan, Waskita Karya Dapat Utang Rp3,7 Triliun dari SMI

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 20 Jun 2016 19:16 WIB
waskita karya
Pengadaan Lahan, Waskita Karya Dapat Utang Rp3,7 Triliun dari SMI
WASKITA. FOTO ANTARA / Fanny Octavianus.

Metrotvnews.com, Jakarta: Perusahaan pelat merah di sektor konstruksi, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI sebesar Rp3,7 triliun.

"Kami telah melakukan transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama dengan nilai di atas 20 persen dari ekuitas perusahaan. Fasilitas pinjaman yang didapatkan dari SMI dengan nilai maksimal Rp3,7 triliun," ujar Sekertaris Perusahaan WSKT, Hadi Susilo dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (20/6/2016).

Menurut Hadi, dana tersebut akan diteruskan kepada Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang kemudian dipinjamkan kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebagai dana talangan pengadaan lahan untuk menunjang kegiatan usaha perseroan.

Adapun dasar pemberian pinjaman tersebut tercatat dalam Akta No. 25 Tanggal 17 Juni 2016 yang dibuat dihadapan Pratiwi Handayani, S.H notaris di Jakarta. Transaksi tersebut sesuai dengan ketentuan Angka 3 Huruf a Poin 3 peraturan Bapepam LK nomor IX.E.2 termasuk ke dalam transaksi material yang dikecualikan dan wajib melakukan keterbukaan informasi.

Belum lama ini, Waskita Karya berencana menerbitkan obligasi dengan mekanisme Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II tahap I Tahun 2016 sebanyak-banyaknya Rp2 triliun. Obligasi ini memiliki kisaran kupon bunga obligasi sebesar 9-10 persen.

"Kami akan terbitkan obligasi dengan total Rp5 triliun. Untuk tahun ini kami terbitkan Rp2 triliun dulu. Kupon bunga 9-10 persen," ucap Direktur Waskita Karya Tunggul Rajagukguk.

Tenor obligasi ini, menurut Tunggul, memiliki jangka waktu selama tiga tahun dengan harga penawaran dari jumlah nilai obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama dilakukan pada 10 September 2016. Sedangkan pembayaran bunga terakhir sekaligus jatuh tempo pada 10 Juni 2019.

Tunggul mengakui, obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus, tetapi dijamin dengan seluruh harta kekayaan perseroan, baik barang yang bergerak maupun tidak, baik telah ada maupun yang akan ada di lain hari. Seluruh dana dari penerbitan obligasi setelah dikurangi biaya emisi, sambung Tunggul, sebanyak 70 persen akan digunakan perseroan untuk modal kerja, dan sisanya 30 persen disuntik ke anak usaha.

"Tahun ini kami akan gencar investasi di toll road. Kami sedang melirik dan bakal mengakuisisi toll road pada tahun ini," jelas Tunggul.



(SAW)