Baru Segelintir Publik Menikmati Pasar Modal

   •    Rabu, 16 Aug 2017 10:13 WIB
pasar modal
Baru Segelintir Publik Menikmati Pasar Modal
Ilustrasi. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat Indonesia yang ikut bermain dan mengambil untung dari pasar modal hanya sekitar 500 ribu orang, atau sekitar 0,2 persen dari populasi penduduk. Begitu juga dengan jumlah perusahaan yang sudah go public hanya 539 emiten, atau 1,5 persen dari total perusahaan.

Jumlah itu relatif kecil jika dibandingkan dengan negara lain. Misalnya, Bombay Stock Exchange yang memiliki 5.230 emiten, Tokyo 2.331, Malaysia 1.018, dan Singapura 776 emiten. Sementara itu, pemodal domestik di Malaysia sudah mencapai 3 juta orang meski penduduknya hanya 31,7 juta orang.

"Sayangnya, bursa efek ternyata seperti menara gading, masih dinikmati segelintir orang," ujar Direktur PT Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio di Jakarta.

Rendahnya partisipasi publik dan perusahaan di pasar bursa, menurut Tito, bukan hanya persoalan terkait dengan investor, melainkan juga soal suplai dari barang atau saham yang bagus dan infrastruktur mengenai market buat opsi derivatif atau instrumen investasinya.

Saat ini, sambung dia, total investor yang menanamkan dana di pasar modal sebanyak 1.050.000 investor. Ada yang berupa saham saja, saham reksa dana, dan surat berharga negara, juga ada yang ke reksa dana saja. Kalau di saham, termasuk saham reksa dana itu ada 550 ribu lebih investor dan yang investasi ke reksa dana saja sekitar lebih dari 350 ribu.

Bagi dia, jumlah tersebut relatif, mengingat potensi yang dimiliki Indonesia dengan status sosial ekonomi penduduk yang sangat tersebar. Dengan investor aktif bisa mencapai 100 ribu orang per hari, itu sudah bagus. Saat ini jumlah investor aktif baru sekitar 30 ribu-35 ribu orang.

Potensi emiten Indonesia dia yakini merupakan salah satu yang terbesar setelah Tiongkok. Jumlah emiten Indonesia mampu tumbuh 14 persen dalam lima tahun terakhir. Bandingkan dengan jumlah emiten Singapura yang turun lima persen dan Malaysia yang turun 5-6 persen.

"GDP Indonesia secara total. Pasar modal berinteraksi. Total aset pasar modal ketimbang perbankan dahulu cuma 15 persen, sekarang mampu sampai 95 persen. Apalagi kalau tambah obligasi, aset pasar modal lebih besar dari perbankan. Jadi masalah bukan hanya investor, melainkan juga suplai barang yang bagus dan infrastruktur mengenai market buat opsi derivatif (turunannya)."

Berkembang Pesat

Berkenaan dengan 40 tahun industri pasar modal di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan industri pasar modal Indonesia semakin matang dan siap menghadapi persaingan serta tantangan global.

"Dengan dukungan infrastruktur yang lebih mumpuni, kinerja emiten positif. Regulator dan seluruh insan pasar modal Indonesia, saya meyakini kita mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia," kata Ketua OJK Wimboh Santoso.

Dalam kesempatan itu, Wimboh mengatakan bahwa pada 1977 posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 98,00 poin, sedangkan per 11 Agustus 2017 sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000 persen.

Sementara itu, lanjut dia, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia pada 1977 sebesar Rp2,73 miliar, sedangkan per 11 Agustus 2017 telah mencapai Rp6.319,55 triliun. "Pada saat itu mungkin tidak terbayangkan oleh kita bahwa pasar modal Indonesia akan berkembang sedemikian pesat," kata dia. (Media Indonesia)

 


(AHL)