Kuartal I, Holcim Cetak Pendapatan Rp2,45 Triliun

Ade Hapsari Lestarini    •    Rabu, 04 May 2016 16:35 WIB
holcim indonesia
Kuartal I, Holcim Cetak Pendapatan Rp2,45 Triliun
Ilustrasi Holcim Indonesia. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mencatat peningkatan pendapatan sebesar Rp2,45 triliun pada kuartal I-2016. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan sebanyak 24 persen dengan peningkatan volume sebesar 41 persen menjadi 2,67 juta ton meskipun persaingan harga di pasar semakin ketat.

"Peningkatan ini dipengaruhi oleh kontribusi volume penjualan dan pangsa pasar PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) pascaakuisisi," tutur Presiden Direktur Holcim Indonesia, Gary Schutz, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (4/5/2016).

Sementara itu, untuk laba bersih tercatat sebesar Rp67 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp33 miliar. Sementara untuk EBITDA operasional, perseroan membukukan Rp497 miliar dari Rp332 miliar.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), total penjualan semen nasional di kuartal pertama tumbuh sebanyak empat persen menjadi 14,4 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya mencapai 13,8 juta ton di periode yang sama karena penurunan kebutuhan pasar sebanyak 1,7 persen di 2015.

ASI memperkirakan di 2016 akan terjadi peningkatan kebutuhan semen sebesar lima persen menjadi 63 juta ton per tahun. Pabrik-pabrik baru yang diperkirakan selesai dibangun di sisa 2016 akan menambah tekanan dalam kondisi pasokan yang berlebih, sementara ekspor diperkirakan meningkat.

Bahkan, asosiasi tersebut memprediksikan jika tahun ini, beberapa pemain baru dari India, Taiwan, dan Tiongkok telah mengumumkan rencana mereka untuk berinvestasi dengan total kapasitas gabungan mencapai 12 juta ton yang akan membuat kapasitas nasional melebihi 100 juta ton dalam dua tahun ke depan.

Selain itu, kebutuhan semen domestik menjadi semakin beragam dengan perbedaan yang signifikan. Pertumbuhan terlemah terdapat di Kalimantan, sementara di Sumatra, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sebanyak 3,5 persen di 2016.

Pasar terbesar di Jawa diharapkan dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan hingga 4,9 persen sebagaimana tercatat dalam dua tahun terakhir. Sementara itu di bagian Timur yang merupakan pasar paling kecil, justru menunjukkan pertumbuhan tertinggi hingga lebih dari delapan persen di Sulawesi dan 10 persen di Bali dan NTT.

"Hal ini disebabkan oleh realisasi anggaran di sektor infrastruktur yang dilakukan Pemerintah setempat sangat diperhatikan dengan baik," tambah dia.

Meningkatnya kinerja Holcim Indonesia termasuk tambahan kapasitas produksi dari pabrik di Lhoknga, Aceh, dan sebuah fasilitas penggilingan setelah bergabungnya PT Lafarge Cement Indonesia ke dalam PT Holcim Indonesia Tbk pada 10 Februari 2016 telah meningkatkan kapasitas produksi perusahaan menjadi 15 juta ton dengan jangkauan pasar yang lebih luas.

Volume yang lebih tinggi di kuartal pertama telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan marjin. Sedangkan biaya produksi per ton dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang juga dipengaruhi oleh penurunan biaya bahan bakar yang rendah dan program-program efisiensi yang berjalan dengan baik di dalam perusahaan.

Pandangan di 2016

Gary menambahkan, perseroan akan tetap melanjutkan usaha untuk terus mendorong pertumbuhan penjualan yang telah diraih di kuartal pertama. Beberapa program efisiensi yang dilakukan di dalam perusahaan terus dijalankan untuk memastikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan melalui proses yang lebih cepat.

Pada Maret 2016, Bank Dunia memperkirakan peningkatan PDB di Indonesia pada 2016 tidak terlalu tinggi hanya mencapai 5,1 persen. Hal ini menjadi sorotan terutama pada tingginya biaya-biaya serta melambatnya laju pertumbuhan perekonomian domestik yang dipengaruhi oleh tekanan kondisi pasokan berlebih dan kurangnya investasi jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Pasifik.

"Holcim Indonesia sangat siap untuk memberikan solusi terbaik dengan kemampuan serta jaringan kami yang sudah mendunia untuk mendukung pembangunan di Indonesia. Integrasi dengan PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) telah memberikan kami faktor ekonomi yang lebih baik," lanjut dia.

Menurutnya, dengan menggabungkan jaringan logistik serta jangkauan pasar yang lebih luas di Sumatera, perseroan kini memiliki kapasitas serta kemampuan untuk mengatasi permasalahan distribusi serta jaminan ketersediaan pasokan untuk memenuhi kebutuhan realisasi investasi di sektor infrastruktur.


(AHL)