Analis Sebut Gerak Rupiah di Posisi Rp13.583/USD Masih Wajar

Dian Ihsan Siregar    •    Jumat, 25 Nov 2016 09:04 WIB
rupiah melemahkurs rupiah
Analis Sebut Gerak Rupiah di Posisi Rp13.583/USD Masih Wajar
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) melemah cukup tajam dan hampir duduk di level Rp13.600 per USD. Kendati mengalami pelemahan cukup dalam, namun pelemahan tersebut dinilai masih wajar dan tetap ada peluang nilai tukar rupiah kembali mengalami penguatan untuk menekan keperkasaan USD.

Tidak dipungkiri, nilai tukar rupiah sempat terpuruk dan dirasakan hingga penutupan perdagangan Kamis, 24 November 2016. Saat itu, ‎nilai tukar rupiah parkir di level Rp13.583 per USD atau melemah dibandingkan dengan pembukaan perdagangan pagi yang di posisi Rp13.558 per USD.

Analis Daewoo Securities Heldy Arifien menegaskan, depresiasi mata uang Garuda yang terjadi beberapa waktu belakangan ini masih dalam ruang yang wajar. Sebab, belum ada berita atau peristiwa yang mampu membuat nilai tukar rupiah mengalami pukulan begitu hebat.

Baca: Nilai Tukar Rupiah Makin Melemah ke Rp13.558/USD

"Masih wajar itu. Saya tidak mendengar shocking news tentang nilai kurs. Jad‎i ruang rupiah masih wajar," ucap Heldy, kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Jumat (25/10/2016).

Sepanjang hari ini, Heldy memprediksi, volatilitas nilai tukar rupiah masih akan terjadi. Paling tidak sama seperti yang terjadi pada perdagangan di hari-hari sebelumnya. Nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp13.510-13.590 per USD.

"Runtuhnya saham perbankan yang mempunyai kapitalisasi besar memberi pengaruh besar bagi nilai tukar rupiah. Tak lupa kebijakan yang datang dari luar negeri, seperti the Fed dan lainnya," tutur Heldy.

Baca: Pergerakan Rupiah Tertekan ke Rp13.518/USD

Sementara itu, ‎Analis First Asia Capital David Setyanto menambahkan, runtuhnya nilai tukar rupiah bukan diakibatkan dari sentimen dalam negeri. Namun, masih banyak datang dari sinyal the Fed yang akan menaikkan tingkat suku bunga acuan.

"Ini karena the Fed, tidak ada urusan lain. Saya berharap tidak ada lagi penurunan (rupiah) di hari ini. Well, semoga saja tidak," tutup David.

 


(ABD)