WIKA-PBM akan Bangun Bandara di Bali Utara Rp4,8 Triliun

   •    Sabtu, 15 Apr 2017 17:11 WIB
wijaya karya
WIKA-PBM akan Bangun Bandara di Bali Utara Rp4,8 Triliun
Ilustrasi bandara. (FOTO: MI/Susanto)

Metrotvnews.com, Denpasar: PT Wijaya Karya Tbk atau Wika (Persero) bersama PT Pembangunan Bali Mandiri (PBM) siap membangun bandar udara baru di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, untuk menunjang pariwisata di Pulau Dewata itu.

"Kami sangat mendukung program pemerintah berkenaan dengan percepatan pembangunan infrastruktur di Tanah Air, termasuk rencana pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Pulau Bali, tepatnya di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng," ungkap Presiden Direktur WIKA Bintang Perbowo, saat dihubungi di Denpasar, seperti dikutip dari Antara, Sabtu 15 April 2017.

Pihaknya mengaku sudah sangat berpengalaman dalam membangun bandar udara secara konsorsium dengan BUMN lainnya maupun dengan perusahaan swasta seperti yang telah rampung di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Balikpapan di Kalimantan Timur, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, dan tempat lainnya.

Konsorsium WIKA-PBM tersebut akan membuka peluang atau kesempatan bagi BUMN, BUMD, Perusda Bali, ataupun perusahaan lainnya untuk bergabung dalam konsorsium pembangunan bandara dengan biaya konstruksi sekitar Rp4,8 triliun yang sudah sangat mendesak diperlukan sebagai sarana pendukung program 20 juta per tahun wisman masuk Indonesia.

Saat ini, pihaknya sedang menunggu penetapan lokasi secara definitif dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berupa titik-titik koordinat, batas-batas runway, dan terminal di atas lahan Desa Kubutanbahan.

"Selanjutnya pihak konsorsium akan segera memperdalam studi desain (DED) yang paling efisien dengan waktu penyelesaian yang lebih cepat serta biaya yang paling murah dibandingkan dengan perusahaan lainnya, sehingga proyek tersebut benar-benar ekonomis dan feasible," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan semestinya realisasi pembangunan bandar udara baru di Kabupaten Buleleng bisa dipercepat karena telah mengantongi persetujuan dari sejumlah pemangku kepentingan terkait.

"Saya sudah bilang ke Menhub. Prinsipnya untuk kebutuhan, Menhub sudah setuju, Menpar setuju, Gubernur sudah setuju, seharusnya ini (pembangunan Bandara Buleleng) bisa cepat," kata Arief Yahya.

Apalagi, ujar dia, rencana lokasi pembangunan bandara di kabupaten paling utara Pulau Bali itu sudah diketahui, termasuk investor yang tertarik untuk melakukan pembangunan juga sudah ada. Arief juga mengaku telah sempat bertanya pada PT Angkasa Pura I dan mereka menyatakan tertarik untuk ikut mengelola bandara baru tersebut.

"Terlalu kritis untuk Bali dengan satu bandara kalau terjadi apa-apa," ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan hingga saat ini izin lokasi untuk pembangunan bandara baru Buleleng itu belum dikeluarkan oleh Menteri Perhubungan.

Jajaran Pemerintah Provinsi Bali, tambah dia, sudah beberapa kali bolak-balik menemui Menteri Perhubungan supaya segera lokasi pembangunan bandara tersebut dapat ditentukan. Selain itu, pilihan investor yang akan membangun bandara juga sudah jelas yakni antara Airport Kinesis Canada (AKC) dan PT Pembangunan Bali Mandiri.

"Kalau mereka (investor) berani maju, berarti harus ada duitnya," tutur Pastika.


(AHL)