IHSG Berpotensi Menguat

Angga Bratadharma    •    Senin, 07 Aug 2017 09:14 WIB
ihsg
IHSG Berpotensi Menguat
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Data nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS) yang melebihi ekspektasi mendorong kenaikan bursa saham negara itu dan indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi. Optimisme terkait pertumbuhan ekonomi kembali meningkat dan diharapkan bisa terus terjadi di masa mendatang.

"Kondisi itu tentu sejalan dengan baiknya data pekerjaan tersebut serta cukup memuaskannya kinerja sejumlah besar emiten yang telah dirilis sebelumnya," ungkap Samuel Research Team, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Senin 7 Agustus 2017.

Kini, investor kembali fokus pada kebijakan moneter the Fed di mana pasar memperkirakan ada peluang 50 persen bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga lagi di Desember. Indeks dolar AS menguat menyusul baiknya data pekerjaan tersebut sehingga memperbesar peluang pelemahan rupiah saat ini.

"IHSG ditutup relatif flat pada jumat lalu dengan dana asing mencatatkan net sell Rp120 miliar di pasar reguler. Melihat penguatan bursa global termasuk sejumlah bursa pagi ini, IHSG berpeluang ikut menguat hari ini," ungkap Samuel Research Team.

Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, hari ini kembalinya penguatan USD akibat baiknya data tenaga kerja Amerika Serikat bisa memicu pelemahan. Fokus juga tertuju pada rilis data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2017 yang diperkirakan naik tipis ke 5,07 persen YoY dari 5,01 persen YoY.

"Bank Indonesia (BI) yang mulai menunjukkan tendensi dovish bisa membantu penguatan rupiah melalui penguatan Surat Utang Negara (SUN). Ruang penguatan rupiah masih tersedia," ungkap Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Serapan tenaga kerja AS mulai mengalami perbaikan dan harga minyak masih kuat. Dolar index menguat tajam di perdagangan Jumat malam, merespons data serapan tenaga kerja serta tingkat pengangguran AS yang relatif baik.

Sedangkan pernyataan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS yang mempromosikan pengurangan pajak korporasi juga ikut mengangkat optimisme terhadap USD. Pergerakan USD yang sempat mengalami pelemahan di Asia menjelang akhir pekan lalu diperkirakan bisa menguat.


(ABD)