Spekulasi Dampak Perang Dagang, IHSG Berpotensi Tertekan

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 09 Jul 2018 08:55 WIB
ihsg
Spekulasi Dampak Perang Dagang, IHSG Berpotensi Tertekan
Ilustrasi. (Foto: Antara/Rival Awal).

Jakarta: Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diprediksi berpotensi tertekan karena pelemahan rupiah.

"Berbagai spekulasi akan dampak negatif perang dagang serta melemahnya rupiah berpotensi menekan IHSG hari ini," tutur tim analis Samuel Sekuritas Indonesia, dalam hasil risetnya, Senin, 9 Juli 2018.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai masih akan menekan pergerakan IHSG. Nilai tukar rupiah sepanjang Jumat lalu bergerak melemah, meskipun mampu membalikkan keadaan pada penutupan pasar spot di level Rp14.365 per USD. Posisi terlemah rupiah Jumat lalu di level Rp14.417 per USD.

Wall Street sebelumnya ditutup naik pada perdagangan Jumat, 6 Juli 2018 seiring dengan kabar pertumbuhan lapangan pekerja di Amerika Serikat. Perang Dagang AS-Tiongkok yang baru saja dimulai tampaknya baru berdampak kecil.

Pada Juni, jumlah lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payroll) di AS bertambah menjadi 213 ribu atau lebih dari konsesus Reuters sebanyak 195 ribu. Meskipun perang dagang antara AS-Tiongkok rupanya hanya berdampak kecil ke saham-saham di AS, sejumlah investor memperingatkan bahwa ketegangan yang berkepanjangan dapat mengacaukan pasar seperti yang sudah terjadi beberapa kali pada tahun ini.

Sementara itu, dari dalam negeri, pekan lalu IHSG akhirnya ditutup melemah ke level 5.694 (-0,77 persen) turun 44 poin dengan value Rp5,5 triliun setelah bergerak dalam rentang sempit pada level 5.694 hingga 5.743.

Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp29 miliar pada pasar reguler. Pada Jumat, 6 Juli 2018, Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2018 sebesar USD119,8 miliar, turun USD3,1 miliar dibandingkan sebulan sebelumnya.

BI menilai penurunan cadangan devisa pada Juni 2018 terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

 


(AHL)