Analis: Mata uang Rupiah Bisa ke Posisi Rp13.700/USD

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 20 Mar 2017 20:18 WIB
kurs rupiah
Analis: Mata uang Rupiah Bisa ke Posisi Rp13.700/USD
Head Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjandra. MTVN/ Dian Ihsan Siregar.

Metrotvnews.com, Jakarta: Head Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjandra‎ memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD bisa terperosok ke posisi Rp13.700 per USD. Hal ini bisa terjadi ketika tidak ada lagi sentimen positif di dalam negeri, dan banyaknya gejolak yang terjadi di luar negeri.

"Ekspektasi The Fed naikkan memang berlawanan ke semua mata uang, karena mata uang semua naik khususnya rupiah. Jadi mereka ‎pelaku pasar sudah diekspektasikan, ini rupiah bisa balik lagi ke posisi Rp13.700 per USD," kata Ariston kepada Metrotvnews.com, ditemui di kantor pusat Monex, Sahid Sudirman Center, Jakarta, Senin 20 Maret 2017.

baca : Aliran Dana Asing Dorong Penguatan Rupiah

Meski demikian, Ariston mengaku, nilai tukar rupiah juga bisa menguat ke level Rp12.850 per USD. Kondisi ini jika banyak sentimen positif yang datang dari dalam negeri hingga akhir 2017. Data ekonomi Indonesia sendiri, lanjut Ariston, telah mencapai posisi yang positif, seperti trade balance, tingkat cadangan devisa dan lainnya. Semua itu turut memberikan pencapaian positif bagi nilai mata uang Garuda.

"Kemarin memang gejolak The Fed pada saat kenaikan langsung anjlok rupiah ke posisi Rp13.400 an per USD dalam satu hari. Setiap The Fed seperti itu short term saja gejolaknya. Rupiah kuat kembali karena banyak data yang baik. Pandangan orang luar terhadap Indonesia semakin positif. ‎Program Jokowi masih positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan cukup membantu penguatan mata uang rupiah," papar Ariston.

Pada pertengahan bulan ini, sambung Ariston, ‎mata uang rupiah masih akan menguat. Sampai akhir tahun dia memperkirakan mulai akan ada gelombang fluktuatif yang  tidak baik bagi pergerakan mata uang rupiah.

"Rupiah memang bisa ke Rp13.700 per USD, kalau itu nyaris bakal ke sana. Tapi lebih realistis ke posisi Rp13.500 per USD," tutup Ariston.‎






(SAW)