Chandra Asri Petrochemical Antisipasi Kenaikan Harga Minyak

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 09 Nov 2017 17:48 WIB
chandra asri petrochemical
Chandra Asri Petrochemical Antisipasi Kenaikan Harga Minyak
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) bakal mengantisipasi kenaikan harga minyak yang diprediksi akan terjadi pada akhir tahun ini dan awal 2018. Sebab, kenaikan tersebut bisa memberikan dampak bagi kinerja keuangan dan bisnis perusahaan.

Direktur Chandra Asri Petrochemical, Suryandi menjelaskan, saat harga minyak naik maka akan mengerek beban perseroan yang sangat mengandalkan minyak sebagai bagian utama dalam bisnisnya.

Dia mengungkapkan, harga bahan baku perseroan sangat ditentukan oleh pasar internasional. Oleh karena itu, perseroan akan menyesuaikan keadaan tersebut.

"Jadi biasanya harga naptha akan naik sekitar 4-5 persen menyesuaikan harga bahan baku," tutur Suryandi saat ditemui bincang-bincang bersama wartawan di bilangan SCBD Sudirman, Jakarta, Kamis 9 November 2017.

Bisa saatnya perseroan meningkatkan harga jual, lanjut dia, pihaknya tidak khawatir akan kehilangan pelanggan. Apalagi, perusahaan menguasai 30 persen pangsa pasar petrochemical di Indonesia.

Oleh karena itu, dia yakin, kinerja perusahaan masih akan tetap baik hingga akhir tahun nanti. "Kinerja kuartal III baru akan kami sampaikan minggu terakhir bulan ini," pungkas Suryandi.

Selama enam bulan pertama di 2017, Chandra Asri Petrochemical membukukan laba bersih sebesar USD174,2 juta, atau naik 32 persen dibandingkan sebesar USD131,8 juta di semester I-2016. Kinerja itu mencerminkan marjin produk sehat yang berlanjut di tengah dinamika penawaran atau permintaan yang baik.

"Kinerja kuartal II-2017 lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I-2017 terutama karena penurunan musiman selama periode lebaran yang jatuh pada Juni 2016, di mana perseroan biasanya mengalami penurunan penjualan sehingga mempengaruhi laba kotor perseroan," ungkap Suryandi di akhir September 2017 lalu.

Namun demikian, tambah dia, dengan tingkat operasional yang lebih tinggi, hasil keuangan perseroan tampil gemilang. Laba yang naik, karena didukung oleh pendapatan bersih yang meningkat jadi USD1,195 miliar, dari posisi USD882,1 juta di Juni 2016.

Peningkatan pendapatan bersih, dia menyebutkan, sebagian besar disumbang oleh kenaikan volume penjualan 1.248 KT di enam bulan pertama tahun ini, dibandingkan 1.036 KT per Juni 2016. Lalu, ditambah dengan marjin produk sehat yang terus berlanjut, yang sebagian diimbangi oleh kenaikan biaya bahan baku, terutama Naphtha, sekitar 24 persen menjadi USD486 per ton.


(AHL)