Imbal Hasil SUN dan Obligasi Negara Berkembang Diperkirakan Turun

Angga Bratadharma    •    Kamis, 15 Jun 2017 10:11 WIB
surat utangobligasi
Imbal Hasil SUN dan Obligasi Negara Berkembang Diperkirakan Turun
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) cenderung dovish dan imbal hasil UST mengalami anjlok. Sesuai dengan harapan investor global, FFR target akhirnya naik sebanyak 25 bps atau yang kedua kalinya terjadi di 2017. Kenaikan ini sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap perekonomian, termasuk ke ekonomi global.

Ketua the Fed Janet Yellen mengatakan inflasi yang saat ini rendah akan kembali ke target jangka panjang the Fed sehingga kenaikan FFR target lanjutan masih diharapkan dengan harapan bisa terjadi sekali lagi di sepanjang 2017 ini seraya penyusutan neraca akan segera dimulai.

"Akan tetapi, the Fed justru memangkas proyeksi inflasinya walaupun proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dinaikkan," ungkap Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis 15 Juni 2017.

Sementara itu, mayoritas imbal hasil negara maju turun merespons hal itu sejalan dengan pelemahan dolar index –malam sebelumnya inflasi inti Amerika Serikat (AS) Mei 2017 juga diumumkan mengalami oenurunan . Probabilitas kenaikan FFR target pada FOMC meeting akhir Juli 2017 juga ikut turun.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bersama dengan obligasi negara berkembang lainnya diperkirakan turun hari ini. Akan tetapi, ruang penurunan imbal hasil SUN diperkirakan terbatas di mana Bank Indonesia (BI) diperkirakan belum akan menjadi lebih dovish melihat potensi kenaikan inflasi ke depan.

"RDG BI yang akan disimpulkan hari ini dan diperkirakan mempertahankan BI RR rate di 4,75 persen," pungkas Rangga.


(ABD)