Rupiah Perdagangan Pagi Terus Menguat ke Rp13.289/USD

Angga Bratadharma    •    Rabu, 14 Jun 2017 08:55 WIB
kurs rupiah
Rupiah Perdagangan Pagi Terus Menguat ke Rp13.289/USD
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau semakin menguat dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp13.291 per USD. Adapun penguatan harga komoditas sekarang ini diperkirakan terus mendukung gerak nilai tukar rupiah bergerak positif.

Mengutip Bloomberg, Rabu 14 Juni 2017, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka di posisi Rp13.289 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp13.280 per USD hingga Rp13.293 per USD dengan year to date return di minus 1,35 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.056 per USD.

Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, membaiknya data Tiongkok serta kenaikan harga batu bara masih menutupi kekhawatiran jelang FOMC meeting sehingga membantu mengembalikan kekuatan rupiah. Rupiah bisa kembali tertekan jika kenaikan Fed Fund Rate (FFR) target disertai oleh pernyataan Ketua the Fed Janet Yellen yang lebih hawkish.



"Misalnya mulai membuka rencana detail penyusutan neraca the Fed. Fokus akan beralih ke data neraca perdagangan dan pengumuman hasil RDG BI yang keduanya dijadwalkan Kamis," ungkap Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Sementara itu, hasil dari FOMC meeting ditunggu  dan dolar index justru mengalami pelemahan. Tidak dipungkiri menjelang pengumuman hasil FOMC meeting Kamis dini hari nanti, dolar index justru melemah. Melambatnya data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) dan penguatan tajam poundsterling menjadi penyebab utama.

Nanti malam juga dinantikan inflasi AS untuk Mei 2017 yang diperkirakan juga mengalami perlambatan ke kisaran dua persen secara tahun ke tahun (YoY). Adapun pada pagi ini ditunggu retail sales dan industrial production Tiongkok yang diperkirakan sedikit melambat.

"Ini bisa menjadi indikasi terhadap prospek pertumbuhan Tiongkok di kuartal II-2017," pungkas Rangga.

 


(ABD)