Rupiah Mewaspadai Risiko Yield Utang

Annisa ayu artanti    •    Senin, 10 Sep 2018 07:53 WIB
kurs rupiah
Rupiah Mewaspadai Risiko <i>Yield</i> Utang
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Gerak rupiah pada hari ini hingga akhir pekan mendatang diprediksi masih akan melanjutkan pelemahan. Bahkan pelemahan diprediksi akan berlangsung hingga akhir September.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan tren pelemahan rupiah tersebut dipicu oleh rencana kenaikan Fed rate sebesar 25 basis poin (bps).

Sebelumnya bunga acuan The Fed yang naik berkebalikan dengan yield treasury bond 10 tahun yang turun menjadi 2,88 persen per 6 September 2018.

"Prediksi ini sesuai dengan teori inverted yield curves, di mana yield surat utang Amerika Serikat jangka panjang menurun, sedangkan yield jangka pendek naik," kata Bhima dalam keterangan tertulisnya, Senin, 10 September 2018.

Menurutnya, ekspektasi investor dalam jangka pendek adalah khawatir dengan adanya market crash dan lebih memilih membeli surat utang bertenor jangka panjang. Inverted yield curves menjadi indikator pra-krisis global sejak 1970-an.

"Proyeksi rupiah pada 10-14 September 2018 bergerak pada level Rp14.840 sampai Rp14.990 per USD," sebut dia.

Sementara itu dari dalam negeri, kondisi berbanding terbalik dengan yield treasury bond. Yield surat berharga negara (SBN) 10 tahun terus mengalami kenaikan menjadi 8,69 persen. Yield yang naik di negara berkembang mencerminkan tingkat risiko berinvestasi semakin besar, apalagi Indonesia masuk ke dalam Fragile Five yakni lima negara paling rentan terpapar krisis.

"Konsekuensinya pelaku pasar masih melanjutkan flight to quality, beralih ke aset yang lebih aman salah satunya greenback (dolar)," imbuh dia.

Seperti diketahui, indikator indeks dolar berada pada level 95,3 atau naik 3,5 persen sejak awal 2018. Kenaikan indeks dolar menjadi indikasi tren super dolar akan berlanjut hingga akhir tahun.

Di sisi lain, ancaman perang dagang kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam kenaikan tarif senilai USD267 miliar barang asal Tiongkok. Akibatnya, efek berlanjutnya perang dagang berpengaruh signifikan terhadap penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia. Hingga Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit hingga USD 3 miliar.

Sedangkan, sentimen cadangan devisa juga berpengaruh terhadap perilaku pasar. Cadangan devisa per Agustus 2018 anjlok ke USD117,9 miliar atau terendah sejak Januari 2017.

"Penurunan cadangan devisa disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Gejolak rupiah yang mengalami eskalasi menguras cadangan devisa secara konsisten," jelas dia.

Perlu dicatat cadangan devisa dibanding Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya 14 persen jauh dibawah negara peers, Filipina sebesar 26 persen dan Thailand 58 persen.

 


(AHL)