PTPP Memundurkan Jadwal Akuisisi Tiga Perusahaan

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 16 Mar 2017 20:30 WIB
ptpp
PTPP Memundurkan Jadwal Akuisisi Tiga Perusahaan
Iluustrasi. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

Metrotvnews.com, Jakarta: Manajemen PT PP (Persero) Tbk (PTPP) memundurkan jadwal untuk mengakuisisi tiga perusahaan hingga pertengahan April 2017. Sebelumnya rencana ini diprediksi bisa terealisasi pada akhir Maret tahun ini.

Perjalanan akuisisi akan menggunakan bendera PP Peralatan. Nantinya perusahaan akan digabungkan menjadi satu terhadap tiga perusahaan tersebut. Akuisisi saham diharapkan bisa terjadi sebelum PP Peralatan IPO. Sebagaimana diketahui, PP Peralatan dibidik untuk merealisasikan IPO pada kuartal II-2017.

Ketika digabungkan menjadi satu, maka PP Peralatan dan tiga perusahaan tersebut akan menjadi lebih besar. Sehingga, akan menarik minat investor terhadap IPO PP Peralatan. 

Menurut Direktur Utama PTPP Tumiyana, dari tiga perusahaan yang diakuisisi, hanya dua yang akan selesai pada Maret, dan satunya selesai pada April. 

"Yang diakuisisi perusahaan art moving dan pondasi, nanti satu pertengahan April, dua pas Maret," jelas Tumiyana, ditemui usai RUPST perseroan di kantor pusat PTPP, Jakarta, Kamis 16 Maret 2017.

Selain itu, PP Energi pun akan mengakuisisi perusahaan. Tujuannya, agar bisa meningkatkan pembangkit listrik menjadi 650 Mega Watt (MW), dari posisi sekarang ini berkisar 100 MW. Akuisisi yang dilaksanakan PP Energi ini diperkirakan tuntas pada kuartal IV 2017.

Terkait dana akuisisi yang akan dijalankan induk usaha, Direktur Keuangan PTPP, Agus Purbianto menyebutkan, akan berasal dari kas internal dan lainnya akan datang dari penerbitan perpetual bond. 

Sekadar informasi, Agus pernah mengaku, nilai investasi yang akan dianggarkan untuk mengakuisisi perusahaan sebesar Rp2 triliun-Rp3 triliun. Sedangkan akuisisi yang dijalankan PP Energi, induk usaha masih banyak mengkaji terhadap beberapa perusahaan yang ada.

Meski begitu, perusahaan masih mengkaji penerbitan instrumen perpetual bond. Sebab, masih terbilang baru, dan belum banyak dijalankan di Indonesia. 

"Kami sedang perusahaan sekuritas sedang kemas produknya, sedang audiensi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait dengan regulasi yang dibuat agar produk itu dapat payung hukum dari regulator," pungkas Agus.


(SAW)