Dua Faktor Dorong Penguatan Rupiah

Nia Deviyana    •    Jumat, 04 Jan 2019 18:11 WIB
kurs rupiah
Dua Faktor Dorong Penguatan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor, baik internal maupun eksternal yang mendorong menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 4 Januari 2019. Tercatat mata uang Garuda menguat 147 poin atau 1,02 persen ke level Rp14.270 per USD.

Faktor internal dipengaruhi oleh lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dilakukan Kementerian Keuangan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut dari target Rp15 triliun, lelang mengalami oversubscribed sebesar Rp50 triliun.

"Yang dimenangkan sebesar Rp28 triliun. Ini menunjukkan memang ada kepercayaan investor baik dari dalam maupun luar negeri terhadap ekonomi Indonesia," ujarnya di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat, 4 Januari 2019.

Larisnya lelang SBN juga berdampak pada suplai pasar valas, yang pada akhirnya mendorong penguatan rupiah.

"Sebagian dari pembeli SBN itu investor asing, dengan demikian ini menambah suplai di pasar valas dan mendorong pergerakan rupiah stabil dan menguat," tambah dia.

Perry menjabarkan saat ini perkembangan mekanisme pasar valas cukup baik, baik pada transaksi spot, swap, maupun Domestic Non-Delivery Forward (DNDF). DNDF bahkan menguat dibandingkan NDF di pasar luar negeri, dengan spread yang biasanya berkisar 50 hingga 51 basis poin, kini berada di bawah 50 basis poin.

"DNDF bergerak stabil dan menguat, bahkan lebih rendah dibandingkan offshore NDF. Ini semakin menunjukkan bekerjanya mekanisme pasar," kata dia.

Sentimen global juga turut memberi andil. Kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) yang diprediksi lebih rendah dari dibandingkan tahun sebelumnya dianggap turut memberi kontribusi.

"Tentu saja kalau tren kenaikan suku bunga global itu tidak setinggi sebelumnya berarti kan lebih positif terhadap nilai tukar rupiah. Karena apa? Imbal hasil di pasar SBN dan pasar keuangan, serta aset-aset keuangan lain di Indonesia akan lebih baik. Ini terbukti kenapa dalam minggu ini lelang SBN dengan target Rp15 triliun dimenangkan di angka Rp28 triliun," bebernya.

Termasuk juga isu perlambatan ekonomi Tiongkok, di mana pada tahun ini diperkirakan berada pada level 6,5 persen, lebih rendah dari tahun lalu sebesar 6,6 persen. "Sehingga konklusinya terjadi penguatan rupiah," pungkasnya.

 


(AHL)