Laba Dua Anggota Holding Tambang Melesat

   •    Selasa, 13 Mar 2018 10:11 WIB
antamptbaholding tambang
Laba Dua Anggota <i>Holding</i> Tambang Melesat
Tambang emas Pongkor milik Antam. (FOTO: Medcom.id/Dian Ihsan)

Jakarta: Laba yang dihasilkan dua anggota holding BUMN tambang, yakni PT Bukit Asam (PTBA) Tbk dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, meningkat tajam. PTBA membukukan kenaikan laba bersih tahun buku 2017 sebesar 121 persen menjadi Rp4,47 triliun dari sebelumnya Rp2 triliun.

Antam juga membukukan laba bersih, yakni Rp136 miliar, atau naik 111 persen (yoy) jika dibandingkan dengan di 2016 yang sebesar Rp64 miliar. Kenaikan laba PTBA seiring dengan kenaikan pendapatan sebesar 38 persen menjadi Rp17,47 triliun pada 2017, dari Rp14,05 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan itu merupakan hasil upaya perseroan melakukan penetrasi pasar untuk menjual batu bara low to medium calorie di tengah membaiknya harga batu bara.

"Pencapaian itu didukung oleh kemampuan manajemen perusahaan dalam merumuskan srategi, di antaranya dengan peningkatan produksi, optimasi harga jual, serta efisiensi biaya," ujar Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin di Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Secara volume, ia mengemukakan bahwa penjualan batu bara pada 2017 mencapai 23,63 juta ton, meningkat 2,87 juta ton, atau 14 persen, dari tahun sebelumnya sebesar 20,75 juta ton. Komposisi penjualan didominasi pasar domestik yakni sebesar 61 persen dan sisanya ekspor.

"Penjualan domestik meningkat mencapai sebesar 2,13 juta ton, naik 17 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sementara ekspor meningkat sembilan persen," paparnya.

Harga jual rata-rata pada 2017 naik 24 persen, dari Rp658,017 pada 2016 menjadi Rp814,216 pada 2017. Kenaikan itu seiring dengan penguatan harga batu bara Newcastle maupun harga batu bara termal Indonesia yang meningkat masing-masing sebesar 34 persen dan 32 persen jika dibandingkan dengan harga rata-rata di 2016.

Pada 2018, imbuh Arviyan Arifin, perseroan merencanakan produksi batu bara sebesar 25,54 juta ton, naik dari rencana tahun sebelumnya sebesar 21,92 juta ton.

Mengenai kebijakan pemerintah mengatur harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO), Arviyan mengatakan tidak terlalu berpengaruh signifikan bagi kinerja perseroan. "Sebanyak 75 persen dijual dengan harga lebih tinggi."

Emas Antam

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo memaparkan penjualan bersih Antam sepanjang 2017 tercatat Rp12,65 triliun, atau naik 39 persen.

"Penumbuhan kinerja keuangan didukung kenaikan kinerja produksi dan penjualan. Di 2017, nilai penjualan bersih Antam dibukukan sebesar Rp12,65 triliun dengan komoditas emas sebagai komponen terbesar berkontribusi sebesar Rp7,37 triliun atau 58 persen dari total penjualan bersih," ujar Arie.

Kinerja produksi feronikel mencapai 21.762 ton nikel (TNi) dalam feronikel, naik sebesar tujuh persen. Penjualan feronikel mengalami penumbuhan empat persen, mencapai 21.813 TNi.

Untuk komoditas emas, Antam mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 1.967 kg dengan penjualan Rp7,37 triliun. (Media Indonesia)


(AHL)