Kenaikan Surat Utang AS jadi Momok Rupiah

Arif Wicaksono    •    Senin, 08 Oct 2018 16:32 WIB
kurs rupiah
Kenaikan Surat Utang AS jadi Momok Rupiah
Rupiah. Dok : AFP.

Jakarta: Mata uang rupiah enggan menjauhi level Rp15.000 per USD sampai saat ini. Mata uang rupiah masih tertekan karena kenaikan surat utang 10 tahun pemerintah Amerika Serikat.

Bloomberg, Senin, 8 Oktober 2018 mencatat mata uang rupiah melemah 53,5 poin dengan berada pada Rp15.236 per USD. Yahoo Finance melansir mata uang rupiah jatuh 45 poin dengan berada pada Rp15.220 per USD. Kemudian Bank Indonesia merekam mata uang rupiah melemah dengan berada pada Rp15.193 per USD.

Samuel Sekuritas Indonesia sebelumnya memperkirakan indeks dolar bergerak melemah ke level 95,3-95,5 terhadap beberapa mata uang kuat utama dunia lainya. Pelemahan dolar tersebut didorong melemahnya data pertumbuhan upah di AS.

Tercatat rata-rata upah per jam di AS naik 2,8 persen (yoy) di September namun lebih rendah dibandingkan Agustus sebesar 2,9 persen (yoy). Non-farm payroll AS juga tercatat mengalami penurunan dari 270 ribu di Agustus menjadi 134 ribu di September.

Pelemahan indeks dolar tersebut kemungkinan tidak diikuti oleh penguatan rupiah seiring naiknya yield US treasury 10 tahun di AS sebesar 3 bps ke level 3,23 persen pada Jumat lalu.

"Kenaikan yield US treasury tersebut kemungkinan akan kembali menekan rupiah. Rupiah kemungkinan masih akan bergerak melemah ke level Rp15.150 per USD hingga Rp15.250 per USD," kata Samuel Sekuritas Indonesia.

Sementara itu Senior Analyst CSA Research Reza Priyambada memprediksi gerak rupiah hari ini akan berada di rentang Rp15.169 sampai Rp15.182 per USD. Pemicunya adalah laju USD yang mengalami perlambatan.

"Pergerakan USD pun terlihat melambat setelah dirilisnya angka pertumbuhan gaji (nonfarm payrolls) AS yang naik di bawah ekspektasi," jelas Reza dalam riset hariannya, Senin, 8 Oktober 2018.

Menurutnya, posisi rupiah saat ini berada di area oversold. Hal tersebut akan membuat pelemahan mata uang Garuda menjadi terbatas.

Reza menambahkan belum adanya sentimen positif dari dalam negeri membuat rupiah hanya menguat tipis pada perdagangan akhir pekan lalu. Banyak pelaku pasar justru mengambil posisi USD lantaran khawatir dengan meningkatnya nilai mata uang safe heaven tersebut. Selain itu, penguatan tipis rupiah juga dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan penurunan cadangan devisa.


(SAW)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

2 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA