Prajogo Pangestu Tambah Kepemilikan Saham di Barito Pacific

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 11 Jul 2018 17:54 WIB
barito pacific
Prajogo Pangestu Tambah Kepemilikan Saham di Barito Pacific
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Jakarta: Prajogo Pangestu, selaku pemegang saham mayoritas PT Barito Pacific Tbk (BRPT), telah melakukan pembelian kembali 22,9 juta saham dari publik yang meningkatkan kepemilikannya menjadi 77,1 persen.

Sebelumnya, dalam PUT II (rights issue) yang telah selesai pada Juni 2018, Prajogo Pangestu telah melaksanakan haknya sebesar Rp7,4 triliun dan melakukan pemesanan tambahan sebesar Rp1,4 triliun pada harga Rp2.330 per saham yang meningkatkan kepemilikannya dari 71,2 persen menjadi 77,1 persen.

Berdasarkan keterangan riset ‎dari Kepala Analis Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe pada Rabu, 11 Juli 2018, prospek bisnis BRPT akan meningkat pasca-akuisisi Star Energy.

Merujuk harga saham BRPT saat ini, menurut Kiswoyo sangat murah. Dia melihat, aksi penambahan saham Prajogo di Barito merupakan kepedulian dan optimisme pemilik terhadap perusahaannya. Tentunya, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi investor publik maupun ritel.

‎"Efeknya bagus, sebagai owner atau pemilik melihat harga saham BRPT saat ini sudah murah sekali. BRPT masih di bawah harga wajar, hal ini bisa menjadi menjadi sentimen positif bagi investor publik dan institusi untuk masuk," ucap Kiswoyo.

Pada akhirnya, dia mengaku, pelaku pasar (investor) tidak akan bingung lagi terkait harga wajar BRPT di pasar saham Indonesia.

"Pemiliknya saja berani, apalagi investornya. Investor sebelumnya bingung, karena orang tahu kan sebelum harga naik, pasti harus masuk. Jadi ini akan banyak masuk dari para investor," jelas Kiswoyo.

Melihat hitungan yang ada, harga saham Barito akan makin meningkat pula. Dia memproyeksikan posisi harga saham Barito bisa mencapai Rp3.000 per saham.

Kenaikan harga saham Barito, sambung dia, karena bisnis Barito Pacific tidak memiliki kompetitor. Sehingga, bisnis yang dijalankannya akan melenggang terus. Dengan begitu, berdampak positif pula untuk kinerja perseroan ke depannya.

"Kinerja BRPT utamanya ditopang oleh Chandra Asri (TPIA) dengan bisnis petrokimianya. Di sini kan kebutuhan petrokimia masih banyak dipenuhi impor. Di Indonesia hanya grup Barito satu-satunya perusahaan petrokimia yang terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Ditambah lagi ada Star Energy, maka akan memberikan nilai tambah lebih bagi Barito," terang dia.

Sama halnya dengan Kiswoyo, Analis dari AAEI Reza Priyambada menyebutkan, aksi penambahan kepemilikan ‎saham yang dilakukan oleh Prajogo di Barito, merupakan sikap kepercayaan pemilik terhadap perusahaannya. Apalagi, setelah Barito sukses mengakuisisi Star Energy. Jadi, ada potensi positif yang akan dikejar perusahaan.

"Bayangkan energi terbarukan belum sepenuhnya digunakan. Ke depan secara bertahap akan menggantikan minyak bumi dan batu bara, dan energi ini bisa dipebarui serta ini lebih murah dari pada batu bara dan minyak bumi. Jadi prospek energi panas bumi yang dimiliki Star Energy ini akan bagus ke depannya dan potensi bisnis Barito masih akan terus berkembang," tutur Reza.

Harga saham yang terbilang murah, Reza menyebutkan pemilik menambah lagi porsi kepemilikan saham di perusahaannya. Bisa dipastikan, ada agenda yang bagus, setelah Prajogo menambah lagi kepemilikan sahamnya di Barito Pacific.

"‎Ini prospek positif, karena aksi korporasi Barito ini terbilang afiliasi. Meski afiliasi, kinerjanya akan bagus. Barito ada Chandra Asri dan Star Energy, dua bisnis itu bantu Barito, jadi bagus untuk investor," tukas Reza.


(AHL)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

3 hours Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA