Bursa Tolak Permintaan INVS

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 11 Oct 2017 14:36 WIB
emiten
Bursa Tolak Permintaan INVS
Illustrasi. MI/Panca.

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, bursa dengan tegas menolak permohonan manajemen PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) agar sahamnya tidak dihapus (delisting). Sebab, keputusan otoritas bursa sudah mencapai kesepakatan final.

Direktur Penilai Perusahaan BEI, Samsul Hidayat menyebutkan, dirinya hanya menjalankan tugas sebagai wasit di industri pasar modal, sehingga menjatuhkan hukuman bagi emiten yang tidak patuh kepada persyaratan sebagai perusahaan terbuka (emiten), salah satunya Inovisi yang tidak memenuhi persyaratan penyampaian laporan keuangan sejak 2014 sampai saat ini.

"Perusahaan Inovisi itu masuk dalam review kita untuk perusahaan yang tidak memenuhi syarat lagi untuk dicatatkan," kata Samsul, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu 11 Oktober 2017.

Bursa, Samsul menekankan, sudah menjalankan komunikasi berkali-kali terhadap Inovisi, bahkan sampai menyinggung kata-kata delisting dari bursa. Tapi, sampai keputusan tersebut diumumkan, manajemen INVS tidak memberikan itikad dan kesan yang baik kepada bursa.‎

"Prosedurnya Bursa melakukan komunikasi dengan mereka, meminta mereka untuk berdiskusi kepada manajemen perusahaan. Nah sampai saat ini perusahaan tidak menunjukkan itikad baik. Ini bukan langkah seketika," terang Samsul.

Proses delisting Inovisi, lanjut dia, sudah memakan waktu yang cukup panjang, bukan berarti saham INVS tiba-tiba langsung ditendang dari bursa. ‎

"Ini melalui prosedur yang cukup panjang. Kita sudah kirim surat berkali-kali mau di-delist, tapi kan diam saja. Tiba-tiba kita delist kemudian ngomong, artinya ini enggak fair juga," pungkas dia.

Sebelumnya, manajemen Inovisi Infracom telah mengajukan keberatan atas keputusan bursa yang bakal menghapus pencatatan sahamnya (delisting) dari papan perdagangan pasar modal. 

Direktur Inovisi Infracom, Pantur Silaban menyebutkan, perusahaan sudah menyelesaikan penyampaian laporan keuangan 2014 pada 30 Agustus 2017. Sedangkan untuk laporan keuangan 2015 dan 2016 selambat-lambatnya disampaikan pada 6 Oktober 2017.

Penundaan penyampaian laporan keuangan untuk 2014, 2015 dan 2016, Pantur mengaku, karena disebabkan adanya perubahan manajemen perseroan pada 7 Maret 2017. ‎Laporan keuangan tersebut memang menjadi salah satu alasan bursa memberi force delisting kepada saham Inovisi Infracom yang diumumkan pada 22 September 2017 lalu.

Tak hanya itu, bilang Pantur, ‎manajemen pun berencana melakukan restrukturisasi utang dengan total Rp725 miliar. Dari utang tersebut sebesar Rp195 miliar dan Rp108 miliar merupakan pinjaman bank sisanya di luar bank.‎ 

"Negosiasi dengan kreditur memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan," sebut Pantur.

Adapun pinjaman di luar bank sebesar Rp422 miliar termasuk rencana restrukturisasi yang diusulkan akan menggunakan debt-to-equity swap. Jika hal itu disetujui, maka perseroan yakin utang di luar bank akan berkurang menjadi Rp303 miliar, sebanyak Rp200 miliar dijamin dengan aset.

Ketika terjadi restrukturisasi, sambungnya, ‎total utang INVS ‎akan berada di bawah Rp200 miliar yang bisa dijamin dengan aset perusahaan sebesar total Rp1,3 triliun. Adapun rasio utang terhadap ekuitas akan berkisar antara 0,15.

Adanya hal itu, manajemen INVS mengharapkan bursa bisa membatalkan delisting. Perseroan pun berharap diberi kesempatan untuk menyelesaikan semua kewajiban di pasar modal. 

"Sehingga kepentingan pemegang saham publik dan minoritas terlindungi," pungkas Pantur.


(SAW)