Investasi Deposito Kurang Menguntungkan

   •    Rabu, 15 Nov 2017 11:35 WIB
investasi
Investasi Deposito Kurang Menguntungkan
Ilustrasi. (FOTO: MTVN/M. Rizal)

SETELAH berintegrasi dengan PT Bank Ekonomi Raharja pada April lalu, HSBC Indonesia yang kini menjadi PT Bank HSBC lndonesia terus mendorong nasabahnya untuk berinvestasi selain melalui tabungan dan deposito.

Head of Wealth Management PT Bank HSBC Indonesia Steven Suryan mengatakan produk deposito dan tabungan merupakan instrumen investasi yang sudah tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini sebab suku bunga BI sejak 2016 sudah turun delapan kali menjadi 4,25 persen. Terlebih LPS rate sejak 2016 juga turun enam kali dari 7,50 persen menjadi 5,75 persen.

"Masyarakat perlu melengkapi produk tabungan dan deposito dengan produk-produk keuangan lain agar semakin mampu mendukung stabilitas keuangan jangka panjang seperti produk-produk investasi (obligasi dan reksa dana), asuransi, atau layanan wealth management," ujar Steven di Jakarta, Selasa 14 November 2017.

Ia menambahkan, untuk stabilitas keuangan nasabah terutama dalam pendidikan anak-anak, HSBC memiliki program college care yang bekerja sama dengan Allianz Indonesia. Salah satu manfaat program itu ialah orangtua bisa menerima dana pendidikan hingga Rp2,5 miliar saat anak masuk universitas.

"Menyiapkan pendidikan anak sejak dini amat penting lantaran meningkatnya biaya pendidikan tiap tahun. Survei terbaru kami mengungkapkan bahwa untuk membiayai pendidikan anak hingga S-1 di lndonesia sedikitnya butuh biaya Rp250 juta," ucapnya.

HSBC juga menyiapkan produk persiapan masa pensiun melalui future care. Nasabah bisa mendapatkan manfaat premi hingga Rp2,1 miliar dan berlanjut pada usia 69 tahun dengan total manfaat mencapai Rp13,5 miliar.

Senada, Head of Market Management Allianz Indonesia Karin Zulkarnaen menyampaikan kebutuhan keluarga muda saat ini bukan lagi asuransi jiwa, melainkan lebih spesifik seperti asuransi pendidikan.

Dirut Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi mengatakan masyarakat harus berpikir melakukan investasi di tengah rendahnya suku bunga. "Bisa melalui reksa dana atau obligasi. (Media Indonesia)

 


(AHL)