Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun, BAF Tawarkan Kupon 6-8,25%

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 12 Apr 2018 13:27 WIB
obligasipembiayaan industri
Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun, BAF Tawarkan Kupon 6-8,25%
Ilustrasi. (Foto: MI/Irfan).

Jakarta: PT Bussan Auto Finance (BAF) bakal menerbitkan Obligasi II Bussan Auto Finance 2018 maksimal Rp 1 triliun. Obligasi terbagi dalam dua seri yaitu seri A berjangka waktu satu tahun dengan kupon 6-6,5 persen dan seri B berjangka waktu tiga tahun dengan indikasi tingkat bunga 7,5-8,25 persen untuk Seri B.

"Setelah penerbitan obligasi perdana kami di 2017 yang mendapat respons positif dari pelaku pasar atau investor, kini kami kembali menerbitkan Obligasi II," ucap Chief Executive Officer (CEO) BAF Lynn Ramli dalam keterangan resmi yang diperoleh media, Kamis, 12 April 2018.

Menurut dia, dana dari hasil obligasi setelah dikurangi biaya emisi, seluruhnya akan digunakan sebagai modal kerja pembiayaan. Hal itu sebagaimana yang telah ditentukan oleh izin manajemen BAF.

Adapun yang bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Indo Premier Sekuritas dan PT Ciptadana Sekuritas Asia, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai wali amanat.

Proses penawaran awal (bookbuilding) obligasi berperingkat idAA (double A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) ini akan dilakukan pada 9-20 April 2018. Jika mendapat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 Mei 2018, maka masa penawaran umum pada 7-9 Mei 2018 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Mei 2018.

Selama satu tahun lalu di 2017, BAF membukukan pembiayaan baru sebesar Rp6 triliun atau meningkat 13,3 persen dari Rp5,3 triliun di 2016. Laba tahun berjalan tumbuh 122,7 persen dari Rp82,1 miliar pada 2016 menjadi Rp182,7 miliar pada 2017. Jumlah aset juga tumbuh 9,5 persen dari Rp7,3 triliun di 2016 menjadi Rp8 triliun di akhir 2017.

BAF juga mampu menjaga rasio Non-Performing Financing (NPF) di level yang semakin baik yaitu sebesar 0,65 persen (YoY) pada akhir 2017 dari 0,91 persen di 2016. Rasio tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan NPF industri pembiayaan yang tercatat pada level 2,96 persen di akhir 2017.


(AHL)