Usai FFR, Kini Gerak Rupiah Dihantui Hasil RDG BI

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 16 Mar 2017 08:54 WIB
kurs rupiah
Usai FFR, Kini Gerak Rupiah Dihantui Hasil RDG BI
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai tukar rupiah masih akan rawan terkena koreksi terhadap dolar Amerika Serikat (USD)‎ lantaran the Fed telah menaikkan Fed Fund Rate (FFR) kembali sebanyak 25 basis poin. Kini rupiah akan dibayangi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), yang salah satu agendanya mengarah ke suku bunga.

"‎Keputusan FOMC yang menaikkan suku bunga the Fed kami harapkan tidak‎ membuat volatilitas USD melonjak yang berimbas ke rupiah. Kini rupiah masih akan dibayangi pertemuan RDG BI yang membuat rawan kembali terjadi pelemahan," ucap Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada,‎ seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Kamis 16 Maret 2017.

Dengan adanya kejadian tersebut, Reza memperkirakan, gerak nilai tukar rupiah akan berada di kisaran support Rp13.382 per USD, sedangkan posisi resisten berada di Rp13.339 per USD. ‎"Masih tetap waspadai pelemahan lanjutan yang akan terjadi di depan," papar Reza.

Menurutnya tidak jauh berbeda dengan pergerakan sebelumnya di mana pelaku pasar masih avoid terhadap pergerakan rupiah dan cenderung memegang USD. Sehingga kondisi itu membuat USD kembali meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tukar r‎upiah.

"Pertemuan FOMC membuat pergerakan USD kembali menguat," jelas Reza.

Adanya pemberitaan positif dari Presiden Jokowi terkait beberapa hal seperti Indonesia mampu menempati peringkat 40 ease of doing business untuk meningkatkan investor dan pertumbuhan ekonomi di 2018 sebesar 5,4-6,1 persen, nyatanya belum mampu berimbas banyak bagi pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin.

"Satu lagi, optimistisnya ‎Kemenkeu terhadap pencapaian ekonomi Indonesia yang lebih baik sebagai imbas pengelolaan APBN yang kredibel tampaknya juga tidak banyak berimbas pada rupiah," pungkas Reza.

 


(ABD)