OJK Berharap Pasar Modal dapat Hadapi Tantangan Global

   •    Minggu, 13 Aug 2017 14:15 WIB
pasar modal
OJK Berharap Pasar Modal dapat Hadapi Tantangan Global
IHSG. MI/RAMDANI.

Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan industri pasar modal Indonesia yang telah memasuki usia 40 tahun makin matang dalam menghadapi persaingan dan tantangan global.

"Dengan dukungan infrastruktur yang lebih mumpuni, kinerja emiten positif, regulator, dan seluruh insan Pasar Modal Indonesia, saya meyakini kita mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia," kata Ketua OJK Wimboh Santoso dalam sambutan peringatan HUT ke-40 Pasar Modal Indonesia dikutip dari Antara, Minggu 13 Agustus 2017.

Dalam rangka memperingati momentum bersejarah bagi Pasar Modal Indonesia yang kini genap menapaki usia 40 tahun sejak aktif kembali pada 1977, Wimboh Santoso juga mengharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih merasakan dampak positifnya.

"Memasuki usia 40 tahun berarti Pasar Modal Indonesia telah memasuki usia matang dan siap untuk memetik hasil yang telah ditanam," ujarnya.

Jika menoleh ke belakang, empat dasawarsa lalu, dia menceritakan bahwa pada 1977 posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 98,00 poin, sementara per 11 Agustus 2017, IHSG sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000 persen.

Sementara itu, lanjut dia, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia pada 1977 sebesar Rp2,73 miliar, sedangkan per 11 Agustus 2017 nilai kapitalisasinya sudah mencapai Rp6.319,55 triliun.

"Pada saat itu mungkin tidak terbayangkan oleh kita bahwa pasar modal Indonesia akan berkembang sedemikian pesat, bahkan saat ini pasar modal kita mulai disejajarkan dengan beberapa negara maju, baik di kawasan ASEAN maupun dunia," kata Wimboh Santoso.

Ia menambahkan bahwa industri pasar modal Indonesia saat ini juga sudah menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi para investor, baik lokal maupun asing.




Wimboh mengatakan bahwa pasar modal Indonesia juga sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang (source of longterm financing) yang penting bagi dunia usaha, dan juga pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan nasional, khususnya infrastruktur di tengah mulai terbatasnya pembiayaan dari sektor perbankan.

"Sebagaimana kita ketahui, saat ini pemerintah sedang gencar melakukan pembangunan berbagai sarana infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan, tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, dan bandara yang semuanya tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit," katanya.

Jika keseluruhan pembiayaan pembangunan infrastruktur tersebut mengandalkan APBN, menurut dia, tentunya tidak akan mencukupi. APBN yang tersedia dalam lima tahun diperkirakan hanya Rp1.500 triliun, sementara kebutuhan pembangunan diperkirakan lebih dari Rp5.000 triliun.

Untuk memperoleh tambahan dana pembangunan infrastruktur itu, Wimboh Santoso menyebutkan salah satu strategi yang saat ini dipilih adalah melalui pemanfaatan berbagai instrumen pembiayaan di sektor pasar modal, mulai dari instrumen konvensional, seperti saham dan obligasi.

"Selain saham dan obligasi, instrumen investasi turunannya, seperti Dana Investasi Infrastruktur berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK)), Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Real Estate (DEIRE), baik konvensional maupun Syariah, Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, Dana Investasi Multi Aset berbentuk KIK," jelasnya.

 


(SAW)