Optimisme Dagang AS-Tiongkok Pengaruhi Rupiah

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 14 Dec 2018 13:50 WIB
kurs rupiahPerang dagang
Optimisme Dagang AS-Tiongkok Pengaruhi Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: MI/Susanto)

Jakarta: Rupiah sempat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena ketegangan dagang AS Tiongkok yang membaik memicu selera investor terhadap aset berisiko.

"Ketertarikan terhadap dolar kemungkinan menurun karena sentimen risk-on, dan ini menguntungkan mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah," ujar Research Analyst FXTM Lukman Otunuga dalam hasil risetnya, Jumat, 14 Desember 2018.

Dia menjelaskan kalender ekonomi Indonesia cenderung kosong di dua hari terakhir pekan ini, sehingga rupiah kemungkinan dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana USD-IDR bereaksi di bawah Rp14.500 per USD. Penurunan tegas di bawah level ini akan mendorong USD-IDR menuju posisi Rp14.400 per USD.

"Sentimen pasar terangkat karena optimisme dagang, tapi untuk berapa lama? Nuansa positif kembali meliputi pasar finansial karena pertanda bahwa ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda," lanjut dia.

Lukman mengatakan ada laporan menggembirakan bahwa Tiongkok membuat pemesanan besar kedelai AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari enam bulan terakhir dianggap sebagai langkah simbolis yang meningkatkan sentimen global dan selera terhadap aset berisiko.

"Walau membaiknya ketegangan dagang berdampak positif pada pasar saham, namun peningkatan ini akan menghadapi rintangan. Bulls saham global tetap terancam oleh kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi global, gejolak Brexit, dan risiko politik di Prancis serta berbagai faktor risiko geopolitik lainnya," jelasnya.

Poundsterling Stabil

Di sisi lain harga poundsterling stabil setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May berhasil memenangkan mosi tidak percaya. Pound dapat lega sejenak setelah Theresa May berhasil melewati mosi tidak percaya.

Perkembangan ini menghapuskan satu elemen ketidakpastian di tengah gejolak Brexit, namun tetap menjadi pukulan besar terhadap kepemimpinan dan kekuasaan May.

May akan menuju Brussels untuk yang kedua kalinya pekan ini, dan investor akan sangat memantau untuk mengetahui apakah May berhasil mendapatkan konsesi dari Uni Eropa mengenai kesepakatan Brexit.

"Jika May pulang ke Inggris dengan tangan kosong, referendum kedua untuk bertahan di Uni Eropa mungkin saja dilakukan. Dari aspek teknis, GBPUSD mengalami pantulan mengesankan dengan harga kembali menuju 1,2700 pada saat laporan ini dituliskan. Breakout tegas di atas level ini akan membuka jalan menuju 1,2760 di jangka pendek," pungkasnya.


(AHL)


Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

6 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA