Akuisisi MFUG ke Danamon Masih Bagus dalam Jangka Panjang

Arif Wicaksono    •    Minggu, 14 Jan 2018 14:46 WIB
bank danamon
Akuisisi MFUG ke Danamon Masih Bagus dalam Jangka Panjang
Bank Danamon. (MI/Rommy Pujianto).

Jakarta: Proses akuisisi Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd (MUFG) kepada Bank Danamon masih memberikan dampak positif dalam jangka panjang hal ini karena tingginya suku bunga di Indonesia dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. MUFG baru menyelesaikan pengambilalihan 19,9 persen saham Danamon. Kabarnya MUFG ingin mejadi pemegang saham mayoritas di Bank yang sahamnya saat ini hampir dikuasi oleh Asia Financial Pte Ltd itu. 

"Bisnis perbankan di Indonesia tetap prospektif karena suku bunga disini tergolong tinggi, dan angka pertumbuhan ekonomi kita juga cukup tinggi," kata analis pasar modal Teguh Hidayat dalam surat elektroniknya, Minggu, 14 Januari 2018. 

Dia mengatakan bahwa fluktuasi jangka pendek industri ini bisa berbalik arah menguat dan tetap menawarkan profit untuk jangka panjang dari lima hingga sepuluh tahun ke depan. Pada tahun lalu memang pertumbuhan kredit melambat dengan mencapai dibawah double digit. Namun dengan mulai stabilnya pertumbuhan industri ritel diharapkan dapat berdampak ke industri perbankan. 

Selain itu diperkirakan IMF, Indonesia akan menduduki peringkat 11 dari negara dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDG) tertinggi di dunia pada 2030. Indonesia juga menduduki menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia Tenggara pada saat itu. 

Suku bunga Indonesia masih menarik dengan bunga empat hingga lima persen. Diatas suku bunga negara maju seperti Jepang yang dibawah satu persen. Di tingkat Asia Tenggara pertumbuhan suku bunga indonesia diatas Singapura dan Malaysia. Suku bunga Indonesia  hanya kalah dari Vietnam dan Myanmar di tingkat Asia Tenggara.



Namun masalah yang akan dihadapi oleh salah satu bank terbesar di Asia melalui akusisinya terhadap Bank Danamon nantinya adalah usaha untuk merebut market share dari bank besar di indonesia yang mencapai 70 persen dari perbankan nasional. Dominasi bank-bank ini yang akan menjadi tantangan bagi pemilik saham danamon nantinya. 

"Dalam beberapa tahun terakhir ada banyak investor asing yang masuk/mengakuisisi bank-bank swasta di Indonesia, tapi gak berdampak positif apapun terhadap kinerja bank yang diakuisis/sampai sekarang industri perbankan di tanah air sekitar 70 persen  masih dikuasai BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI," tegas dia. 

Dia mengatakan bahwa perbankan indonesia akan menumbuhkan ekuitas senilai 10 hingga 15 persen untuk big four seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI). 

"Untuk tahun ini perbankan di Indonesia akan tetap growing seperti biasanya, dengan pertumbuhan nilai buku/ekuitas sekitar 10  sampai dengan 15 persen  untuk bank-bank besar," pungkas dia.





(SAW)