Sido Muncul Cetak Untung Rp380 Miliar di Triwulan III-2017

Mustholih    •    Selasa, 14 Nov 2017 18:00 WIB
beisido muncul
Sido Muncul Cetak Untung Rp380 Miliar di Triwulan III-2017
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat, potong tumpeng di Danau Rawa Pening, Semarang. (FOTO: MTVN/Mustholih)

Semarang: PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan keuntungan kotor Rp380 miliar pada triwulan ketiga 2017. Perusahaan yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah tersebut optimistis hingga akhir tahun mampu meraup keuntungan kotor Rp505 miliar dari penjualan jamu dan produk-produk herbal.

"Di tengah kelesuan ekonomi, kami masih bisa tumbuh sedikit. Profit triwulan ketiga ini Rp380 miliar. (Akhir tahun) diasumsikan tambah Rp125 miliar, jadi keseluruhan profit Rp505 miliar," kata Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, usai merayakan ulang tahun ke-66 Sido Muncul di Danau Rawapening, Semarang, Jawa Tengah, Selasa 14 November 2017.

Asumsi ini, kata Irwan, membuat laba kotor perseroan naik Rp15 miliar dibanding tahun lalu. "Tahun lalu Rp480 miliar. Jadi profitnya masih diharapkan naik dibanding tahun lalu," ungkap Irwan.

Menurut Irwan, keberhasilan Sido Muncul dalam meningkatkan pendapatan menjadi prestasi tersendiri karena mampu bertahan dari kondisi ekonomi nasional yang sedang terpuruk. Meski begitu, diperkirakan jumlah penjualan jamu dan produk-produk herbal Sido Muncul melenceng dari target.

"Target penjualan tidak masuk. Tapi, kami masih bersyukur di tengah semua keluhan, Sido Muncul bisa tumbuh sedikit," tegas Irwan tanpa mau membuka detail target penjualan yang ditetapkan perusahaan.

Irwan berharap tahun depan profit perseroan masih bisa bertumbuh lebih baik lagi. Sehingga, sebagai perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham Sido Muncul bisa lebih meningkat.

"Performanya bagus tapi tidak sesuai dengan harga saham. Harga saham tidak naik. Tapi, analisanya masih bagus buat investasi," jelas Irwan.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio pun mengaku heran jika harga saham Sido Muncul tidak sesuai dengan pencapaian kinerja perusahaan. Padahal, perseroan dinilai sebagai perusahan farmasi industri jamu Indonesia yang paling terbuka saat ini.

"Produk dia sudah internasional. Aset bagus. Yang menarik performance yang baik ini belum diikuti kesesuaian harga sahamnya," jelas Tito ditemui di tempat yang sama.

Padahal, kata Tito, Sido Muncul memiliki dana tunai Rp1 triliun untuk menopang kinerja perusahaan. Menurut Tito, tidak naiknya harga saham Sido Muncul disebabkan karena faktor nonteknis.

"Banyak yang menganggap under-perform. Padahal secara perusahaan bagus, tapi pasar itu kan suplai dan demand. Banyak orang kenal Sido Muncul sebagai produk jamu bukan sebagai perusahaan," pungkas Tito.


(AHL)

Pemerintah Masih Godok Pembentukan <i>Holding</i> BUMN Jasa Keuangan

Pemerintah Masih Godok Pembentukan Holding BUMN Jasa Keuangan

4 hours Ago

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menggodok pembentukan holding BUMN di sektor …

BERITA LAINNYA