IHSG Pagi Dibuka Berbaris di Jalur Hijau

Angga Bratadharma    •    Senin, 12 Feb 2018 09:15 WIB
ihsg
IHSG Pagi Dibuka Berbaris di Jalur Hijau
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin pagi atau di awal pekan terpantau berbaris di jalur hijau. Meski demikian, tetap perlu diwaspadai hadirnya sejumlah sentimen negatif yang memberikan tekanan sehingga IHSG bisa berbalik melemah.

IHSG Senin, 12 Februari 2018, perdagangan pagi dibuka menguat 8,08 poin atau setara 0,12 persen ke posisi 6.513. Level tertinggi IHSG tercatat berada di posisi 6.514 dan level terendah IHSG tercatat berada di posisi 6.503.

Volume perdagangan pagi tercatat sebanyak 565 juta lembar saham senilai Rp239 miliar dengan jumlah frekuensi sebanyak 13.971. Sebanyak 150 saham bergerak menguat, sebanyak 31 saham terlihat melemah, dan sebanyak 76 saham tidak berubah.

Di sisi lain, bursa Wall Street ditutup menguat pada Jumat lalu setelah turun pada Kamis sebelumnya. Data terakhir dari Thomson Reuters menunjukkan bahwa laba perusahaan-perusahaan S&P 500 pada kuartal IV-2017 diperkirakan meningkat 14,7 persen ssecara YoY, sementara pendapatan mereka diperkirakan meningkat sebesar delapan persen secara YoY.

Selain itu, Samuel Research Team menyebut, para investor terus memantau kemajuan rancangan undang-undang pengeluaran Pemerintah AS. Layanan-layanan pemerintah tidak penting AS sempat dihentikan namun dibuka kembali pada Jumat pagi, 9 Februari 2018.

"Hal itu dilakukan setelah Kongres menyetujui RUU pengeluaran sementara dua tahun sebesar USD400 miliar, yang Presiden AS Donald Trump tandatangani pada Jumat pagi," sebut Samuel Research Team menyebut, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Sementara itu, dari dalam negeri, gerak IHSG turun 0,59 persen ke level 6.505 sejalan dengan pelemahan bursa global. Harga sejumlah komoditas termasuk minyak cenderung melemah sementara USD index masih cenderung menguat.

"Didominasi oleh rawannya volatilitas bursa global, IHSG masih berpotensi melemah, setidaknya untuk perdagangan Senin ini," pungkas Samuel Research Team.

 


(ABD)