Gerak IHSG Diprediksi Terangkat Rilis Data Ekonomi

Annisa ayu artanti    •    Senin, 03 Sep 2018 07:35 WIB
ihsg
Gerak IHSG Diprediksi Terangkat Rilis Data Ekonomi
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Mengawali awal September 2018, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menuju zona hijau atau penguatan.

Vice President Research Department PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan pada awal bulan akan banyak rilis data perekonomian dalam negeri yang mampu mengerek IHSG seperti data inflasi, PMI manufaktur, pertumbuhan kredit, dan jumlah kedatangan turis.

"Data tersebut akan mewarnai awal bulan dan memberikan sentimen terhadap pola gerak IHSG," kata William dalam riset hariannya, Senin, 3 September 2018.

Menurutnya, potensi kenaikan pada IHSG masih terlihat dengan adanya banyak rilis data perekonomian yang disinyalir masih akan menunjukkan kondisi fundamental perekonomian yang stabil.

"Hari ini IHSG berpotensi menguat pada rentang 5.872 sampai 6.226," sebut William.

Sementara itu Analis Binaartha Technical Research Nafan Aji menjelaskan berdasarkan daily pivot dari Bloomberg, support pertama maupun kedua memiliki range pada level 5.966,586 hingga 5.914,712. Sementara itu, resisten pertama maupun kedua memiliki range pada level 6.044,397 hingga 6.070,334.

Berdasarkan indikator, MACD sudah berhasil membentuk pola golden cross di area positif. Sementara itu, stochastic dan RSI sudah berada di area netral.

"Terlihat pola bullish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi penguatan pada pergerakan indeks saham, sehingga indeks berpeluang menuju ke area resisten," jelas Nafan.

Beberapa menu saham yang perlu dicermati hari ini adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Wika Beton Tbk (WTON), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM).

Kemudian cermati pula gerak saham PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Timah Tbk (TINS).

 


(AHL)