Jejak Langkah Pasar Modal RI Dulu dan Sekarang

Desi Angriani    •    Kamis, 13 Jul 2017 16:28 WIB
bei
Jejak Langkah Pasar Modal RI Dulu dan Sekarang
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak zaman kolonial Belanda pada 1912. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan bursa saham mengalami kevakuman.

Metrotvnews.com merangkum sejarah perkembangan bursa saham. Pada 13 Juli 1992, BEJ diprivatisasi dengan dibentuknya PT Bursa Efek Jakarta dan tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ. Saat itu, perdagangan saham masih menggunakan kertas dan para karyawan melakukan pencatatan saham di atas papan putih.

"Saya bangga saat ini bisa dikatakan termasuk bursa yang modern. Saya ingat betul waktu itu pakai papan transaksi untuk memindahkannya pakai truk untuk menyelesaikan transaksi sekarang tinggal pindah buku," ujar mantan Dirut BEI periode 2002-2009 Mas Achmad Daniri, dalam acara HUT ke-25 BEI di Gedung Utama BEI, Jakarta, Kamis 13 Juli 2017.

Achmad mengungkapkan, saat masih menggunakan transaksi manual, BEI membuat floor trading dengan cara bertingkat. Hal ini dilakukan karena sudah tidak ada ruang untuk melakukan transaksi.

"Yang jelas dulu itu kan kalau kenapa misalnya trading floor itu dibuat bertingkat karena sudah enggak ada tempat lagi jadi enggak ada cara lain kecuali transaksinya otomatis," tutur dia.




Kemudian pada 22 Mei 1995, perdagangan elektronik di BEJ dimulai. Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems) ini diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada 10 November 1995. Berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah ini membuat pasar modal mengalami pertumbuhan. Namun, pada 14 September 2000 terjadi serangan teroris dimana bom mobil meledak di ruang bawah tanah Bursa Efek Jakarta.

Pada tahun itu pula, bursa mulai menggunakan Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading). Dua tahun setelahnya, BEJ mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading). Perdagangan sempat jatuh ke sekitar 300 poin pada saat-saat krisis, BEJ mencatat rekor tertinggi baru pada awal 2006 setelah mencapai level 1.500 poin setelah dilantiknya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Peningkatan pada 2004 ini sekaligus membuat BEJ menjadi salah satu bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia pada tahun tersebut.

Pada 2007, pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif. Sejak itu, BEJ berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, atau Indonesia Stock Exchange (IDX). Penggabungan ini menjadikan Indonesia hanya memilki satu pasar modal.

Transaksi di pasar saham pun kini berkembang semakin canggih melalui online atau online electronic trading sehingga memudahkan pelaku pasar tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Kapitalisasi pasar bursa pun sempat tembus dengan rekor tertinggi Rp6308,38 triliun pada Mei 2017. Adapun jumlah investor di pasar modal pada kuartal I-2017 mencapai 930.000 akun. Sementara 555 emiten tercatat melantai di pasar modal hingga 2017.


(AHL)