Belum Delisting, BEI Tunggu Konfirmasi dari Emiten DAJK

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 05 Dec 2017 13:46 WIB
emitenbeipasar modalipodelisting
Belum <i>Delisting</i>, BEI Tunggu Konfirmasi dari Emiten DAJK
Ilustrasi BEI (ANTARA FOTO/Fanny Kusumawardhani)

Jakarta: PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK) telah dinyatakan pailit di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sebab pengadilan mengabulkan pengajuan pembatalan perjanjian damai oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) atau Bank Mandiri selaku kreditur perusahaan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun merespons cepat dengan menghentikan perdagangan saham Dwi Aneka Jaya Kemasindo per 23 November 2017. Sampai saat ini, BEI sedang menunggu langkah dan keputusan dari manajemen DAJK.

"Kalau memang dipailitkan kita kan tinggal konfirmasi apakah mereka ada upaya hukum lain. Apa lagi kira-kira yang mereka bisa lakukan," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat, di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Selasa, 5 Desember 2017.

Emiten DAJK sudah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Proses hukum tersebut masih berjalan dan bursa menunggu keputusan akhirnya. Jika status pailit sudah final, bursa akan men-delisting saham DAJK.

"Iya mau tidak mau, mau ngapain lagi? Contoh kalau kita investasi, beli kambing mau diternakin, kambingnya mati, itu sama dengan pailit," jelas dia.

Adapun nasib pemegang saham publik perusahaan, Samsul menegaskan, hal itu bergantung pada proses lelang aset DAJK. Jika aset sudah dibayarkan utang dan kewajiban lainnya dan masih tersisa maka bisa dialokasikan untuk pemegang saham.

‎Tapi, sambungnya, jika tidak ada sisa dari penjualan aset, pemegang saham hanya bisa gigit jari. Lantaran hal itu merupakan bagian dari risiko menjalankan investasi.  "Kalau ada sisanya. Karena prioritas bayar utang pajak, utang vendor, utang karyawan, dan bayarin semua. Kalau ada sisa baru kembali ke pemegang saham," tukas dia.

Hingga kuartal III-2017, DAJK mempunyai utang ke beberapa bank sebesar Rp870,17 miliar. Sedangkan aset yang dimiliki peruahaan mencapai Rp1,3 triliun atau turun dari Rp1,5 triliun di akhir Desember 2016.

Utang bank ke Standard Chartered Bank sebesar Rp262,4 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp414,26 miliar, Bank Commenwealth Rp50,4 miliar, Citibank N.A Rp26,6 miliar, dan Bank Danamon Rp9,9 miliar.

Kemudian ada ‎pembiayaan murabahah dari PT Bank BRI Syariah dengan sub jumlah sebesar Rp106,4 miliar. DAJK juga memiliki kewajiban sewa pembiayaan Rp28,14 miliar dan lembaga keuangan Rp96 juta.


(ABD)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA