Demo dan Rush Money Tidak Ganggu Gerak IHSG

Dian Ihsan Siregar    •    Jumat, 25 Nov 2016 09:00 WIB
ihsg
Demo dan <i>Rush Money</i> Tidak Ganggu Gerak IHSG
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Kamis, 24 November 2016, mengalami penurunan cukup tajam sebanyak 104,37 poin atau setara dua persen ke posisi 5.107. Namun demikian, indeks sempat menguat ke level 5.194 yang artinya gerak indeks akan kembali menguat ke posisi 5.200.

Merosotnya indeks hingga dua persen, ‎menurut Analis First Asia Capital David Setyanto‎, karena adanya efek dari bank sentral AS atau the Fed yang semakin memperkuat niatnya untuk menaikkan tingkat suku bunga. Hal itu terlihat dari aksi profit taking atau aksi ambil untung yang dilakukan investor asing masih terus berlanjut.

"Ini benar-benar semakin kencang sinyal the Fed ingin menaikkan suku bunganya. Asing (investor) yang profit‎ taking masih lanjutan dari kemarin, sehingga mereka ada aksi wait and see," kata David kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Baca: IHSG Ditutup Terkoreksi 104,3 Poin

Bukan hanya the Fed, lanjut David, sentimen dari luar negeri lainnya adalah terkait kebijakan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu karena masih banyak kalangan yang meragukan kebijakan Trump mengenai ekonomi.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri, masih kata David, sama sekali tidak terlalu signifikan. Apalagi yang berhubungan dengan urusan demo dan isu rush money yang sering dibicarakan belakangan ini.

"Tidak ada urusan demo-demo yang menggangu pasar kita. Ekonomi kita masih baik. Ini karena the Fed dan kebijakan Trump, cuma itu," terang David, seraya menambahkan bahwa pada perdagangan di sepanjang hari ini diharapkan pasar tidak bergejolak dan mudah-mudahan tidak turun drastis kembali hingga di bawah 5.000.

‎Sementara itu, Analis Daewoo Securities Heldy Arifien menambahkan, anjloknya indeks sepanjang hari kemarin karena dimotori oleh merosotnya saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Sehingga dampak itu memberikan kondisi sebagai sinyal negatif, dan akhirnya memberi respons yang tidak baik bagi pelaku pasar.

"Merosotnya saham perbankan serta mayoritas saham dengan kapitalisasi yang besar, itu juga masih sama karena fed rate diperkirakan naik di Desember 2016," jelas Heldy.

Baca: Performa IHSG Makin Merosot di Sesi Siang

Lebih lanjut, ia berharap, kondisi indeks tidak kembali turun tajam ke posisi yang lebih rendah dari posisi 5.100. Tapi, tetap ada kemungkinan indeks turun ke posisi 5.050-5.075. "Angka 5.050-5.075 me‎njadi titik penentu arah selanjutnya, sekaligus harapan sebagai titik balik dan basis support IHSG untuk menahan laju pelemahan yang mungkin masih membayangi," tutupnya.

 


(ABD)