Strategi Investasi Saham bagi Generasi Milenial

   •    Minggu, 20 May 2018 16:19 WIB
bursa sahambei
Strategi Investasi Saham bagi Generasi Milenial
IHSG (ANT/Rosa Panggabean).

Jakarta: Menurut polling yang diadakan oleh New Harris melalui sebuah aplikasi bernama Stash, hampir 80 persen generasi milenial tidak melakukan kegiatan investasi di pasar saham. Hal ini karena 34 persen anak muda mengatakan sulitnya memahami cara kerja investasi saham.

DIkuti dari Sikapiuangmu, OJK, Minggu, 20 Mei 2018, pembuatan rekening saham dan dana yang harus dikeluarkan untuk dapat berinvestasi cenderung mudah dan murah. Di Indonesia sendiri, terdapat 84,75 juta jiwa dari total penduduk merupakan kelompok usia produktif atau generasi Y, yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah generasi milenial.            

Pengetahuan awal mengenai dunia investasi saham, bisa dimulai dari pengetahuan dasar, yaitu kapan harus membeli dan kapan harus menjual saham. Di artikel kali ini, kita akan mengupas mengenai strategi membeli dan menjual saham, tentu saja termasuk strategi penting mitigasi risiko kerugian dalam investasi saham.

Pertama, kapan waktu yang tepat untuk membeli saham? Nah, terkait waktu yang tepat ini sebenarnya bisa dilihat dari dua hal yaitu berdasarkan analisis fundamental dan teknikal, Sobat Sikapi. Analisis fundamental itu mengacu pada analisa melalui pendekatan kondisi ekonomi, politik, atau bahkan melihat tren perkembangan usaha yang ada. Analisis ini salah satunya bisa dilihat dari laporan keuangan, Sobat Sikapi.

Sementara analisa teknikal, merupakan analisa saham melalui pendekatan pergerakan saham itu sendiri pada suatu rentang waktu, termasuk didalamnya adalah harga dan fluktuasinya, serta informasi mengenai titik tertinggi dan terendah dari suatu saham. Perlu diingat ya Sobat Sikapi, harga disini bukan semata-mata harga yang murah ya, tapi harga saham dari perusahaan yang pantas untuk dibeli.

Selanjutnya, terdapat hal-hal yang perlu kita perhatikan sebelum membeli saham antara lain adalah profil dan tingkat likuiditas perusahaan, fluktuasi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tren market, Return of Equity (ROE) atau laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut, sales atau penjualan serta Earning per Share (EPS) Growth.

Selain memperhatikan poin-poin penting di atas, strategi juga menjadi salah satu hal penting. Terdapat tiga strategi dalam membeli saham yaitu:

1.  Buy On Weakness yaitu membeli ketika harga saham sudah turun ke level tertentu yang aman untuk dibeli.

2. Buy If/On Breakout yaitu membeli ketika harga saham berhasil menembus level tertentu atau naik menembus resistance (level tertingginya).

3. Buy on Retracement yaitu membeli saham setelah terjadi breakout atau harga bawah. Saham yang berhasil breakout pada umumnya akan langsung mengalami kenaikan yang kencang.

Sekarang, kita juga harus tahu kapan waktu yang tepat untuk menjual saham yang kita miliki. Waktu yang tepat dalam menentukan saat untuk menjual saham adalah tentunya ketika harga sedang naik atau disebut juga profit taking. Tapi, bagaimana kalau harga turun? Nah, waktu yang tepat untuk menjual saham yaitu salah satunya adalah dengan menetapkan cut loss.

Cut Loss adalah istilah yang digunakan ketika kita menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga belinya, sehingga kita mengalami kerugian (loss). Keberadaan cut loss ini bukan untuk merealisasikan kerugian loh, Sobat Sikapi! Tapi justru untuk mencegah kerugian yang lebih besar lagi ketika harga saham yang kamu pegang terus menurun.

Misalnya, ketika kamu telah menentukan batasan cut loss di angka lima persen atau tujuh persen, maka ketika kerugian sudah mencapai kisaran angka tersebut, kamu dapat langsung menjual saham yang kamu punya, Sobat Sikapi.

Cut loss sendiri dianjurkan untuk dilaksanakan oleh para investor dan trader guna menjaga modal yang dimiliki, Sobat Sikapi. Waktu untuk melaksanakan cut loss pun berbeda-beda, tergantung  dari posisi kamu; apakah sebagai trader atau investor. Buat kamu-kamu yang merupakan trader aktif, jika saham yang kamu pegang akan turun terus, maka lebih baik untuk segera melakukan cut loss segera.

Kuncinya di sini adalah dengan berupaya mengetahui arah pergerakan saham tersebut, apakah akan naik, turun, atau sideways dalam kurun waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari beberapa bulan tergantung dari jangka waktu trading kamu.

Biasanya investor akan melakukan  cut loss ketika terjadi perubahan yang fundamental yang bisa dilihat dari kinerja fundamental perusahaan. Beberapa hal bisa dijadikan alasan mengapa kamu harus melakukan cut loss yaitu antara lain ketika adanya berita buruk terkait perusahaan yang bersangkutan dan atau jika terjadi penurunan IHSG.

Ada dua cara yang dapat dijadikan patokan dalam menentukan titik cut loss sebuah saham, Sobat Sikapi, yaitu berdasarkan harga beli dan berdasarkan titik support. Titik support sendiri merupakan tingkat atau area harga yang diyakini sebagai titik terendah, Sobat Sikapi.

Perlu diingat, semua jenis investasi, pasti memiliki risiko. Namun, seperti perkataan dari Warren Buffet, "Risk comes from not knowing what you are doing." Atau risiko datang ketika kamu tidak mengetahui apa yang kamu lakukan.

Pahami jenis investasinya dan cara kerjanya. Dari hal tersebut kamu akan mengerti apa yang harus kamu lakukan dan bisa mengurangi atau bahkan menghindari kerugian.


(SAW)