Investor Abaikan Isu Perang Dagang

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 10 Jul 2018 18:30 WIB
Perang dagang
Investor Abaikan Isu Perang Dagang
Ilustrasi. (Foto: MI/Atet).

Jakarta: Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed mengatakan rupiah memasuki pekan perdagangan baru dengan positif karena dolar AS melemah.

Menurutnya, perhatian investor akan tertuju pada data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan untuk dirilis di Rabu. Data penjualan Mei bisa memberi wawasan baru mengenai keadaan ekonomi Indonesia.

"Jika data aktual lebih besar dari proyeksi pasar yaitu 4,4 persen, maka rupiah berpotensi semakin menguat," ujar dia dalam analisanya, Selasa, 10 Juli 2018.

Dia mengatakan ketegangan dagang mendominasi tajuk utama pekan lalu, namun investor Wall Street mengabaikan isu perang dagang dan menyambut gembira laporan lapangan kerja AS di mana 213 ribu lapangan kerja baru dibuka di ekonomi AS di Juni, jauh melampaui proyeksi 195 ribu.

Sementara itu, data Mei ditingkatkan dari 223 ribu menjadi 244 ribu. Pertumbuhan upah sedikit lebih rendah dari ekspektasi 2,8 persen YoY yaitu 2,7 persen. Walau demikian, pertumbuhan lapangan kerja yang baik dan rendahnya inflasi upah adalah kombinasi positif untuk saham karena alasan sederhana.

Pertumbuhan lapangan kerja yang baik mencerminkan kekuatan ekonomi, inflasi upah yang rendah memberi fleksibilitas ekstra untuk Federal Reserve untuk memperketat kebijakan.

"Keadaan positif bisa terhenti kapan saja apabila investor yakin bahwa ketegangan dagang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Sejauh ini, AS telah memberlakukan tarif USD34 miliar untuk impor dari Tiongkok, begitu pula Tiongkok terhadap impor AS," jelasnya.

Dia mengatakan tahap ini jelas sudah terefleksikan pada harga. Meninjau kinerja saham Asia hari ini, investor sepertinya tidak berpendapat bahwa perang dagang akan terjadi.

Walau begitu, Presiden Trump sulit ditebak sehingga momentum naik ini sepertinya akan terbatas, terutama untuk saham siklikal, hingga ada kejelasan mengenai isu perdagangan.

Sementara di pasar FX, indeks dolar merosot ke level terendah sejak 14 Juni yaitu di bawah 94 karena pertumbuhan upah yang stagnan. Trader perlu memantau rilis Indeks Harga Konsumen AS Jumat yang diperkirakan akan meningkat 2,9 persen YoY yang merupakan peningkatan tahunan terbesar sejak Februari 2012.

Apabila IHK melampaui acuan tiga persen, maka dolar berpotensi sangat menguat karena ini berarti Fed tidak memiliki pilihan selain semakin memperketat kebijakan.

Selain itu harga minyak menguat di awal pekan ini walaupun jumlah sumur minyak aktif di AS meningkat sebanyak lima buah pada pekan lalu. Tweet Trump yang mendorong OPEC untuk meningkatkan produksi terbukti tidak terlalu berpengaruh untuk menurunkan harga minyak sejauh ini.

"Backwardation terus meningkat di kurva futures Brent dan WTI, merefleksikan ketatnya pasar minyak. Perhatian akan tertuju pada produksi OPEC bulan ini, terutama dari Arab Saudi, setelah Trump mendorong OPEC untuk mengambil langkah menurunkan harga minyak," pungkasnya.

 


(AHL)


Polda Perketat Pintu Masuk Bali

Polda Perketat Pintu Masuk Bali

16 minutes Ago

Untuk mengantisipasi gangguan keamanan lainnya seperti aksi demo saat IMF-WB berlangsung, polis…

BERITA LAINNYA