Kembangkan Gas di East Natuna Perlu Teknologi Canggih dan Murah

Annisa ayu artanti    •    Minggu, 30 Jul 2017 19:27 WIB
blok natuna
Kembangkan Gas di East Natuna Perlu Teknologi Canggih dan Murah
Wamen ESDM Archandra Tahar. MI/ROMMY PUJIANTO.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memerlukan teknologi canggih dan murah untuk mengembangkan gas di Blok East Natuna.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, untuk mengembangkan gas tersebut harus ada teknologi untuk memisahkan karbondioksida (CO2) dengan gas yang bisa digunakan. Sejauh ini ada beberapa perusahaan yang memiliki teknologi pemisah CO2. Salah satunya ExxonMobil. Namun, untuk mengembangkan gas di blok East Natuna yang kandungan CO2-nya sangat besar tersebut perlu teknologi yang super canggih dengan harga terjangkau.

"Ada beberapa perusahaan punya teknologinya. Sekarang adalah siapa yang bisa menyediakan teknologi yang lebih murah, karena kalau teknologinya mahal tidak bisa di-develop. 72 persen itu besar sekali," kata Arcandra di Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu 30 Juli 2017.

Lalu, ketika ditanya mengenai taksiran biaya yang dikeluarkan untuk menyewa teknologi tersebut, Arcandra yang juga salah satu ahli migas offshore ini menjelaskan perlu waktu untuk mendalaminya. Pasalnya, ia perlu mempelajari hasil dari kajian teknologi dan pasar (technology and market review/TMR).

"Saya belum lihat TMR-nya, baru mendengar saja. Nanti saya dalami dulu," ucap dia.

Nantinya, PT Pertamina (Persero) yang ditunjuk sebagai operator Blok East Natuna akan bekerja sama dengan perusahaan pemilik teknologi untuk memisahkan CO2 itu.

Sebelumnya, Vice President of Public and Government Affairs Exxon Erwin Maryoto mengatakan, ExxonMobil membuka peluang kerja sama untuk pemanfaatan teknologi yang dimiliki perusahaan.

"Kita menyampaikan ke Pertamina atau ke pemerintah kalau memang Pertamina ataupun siapa pun nanti mau memerlukan teknologi yang kami miliki untuk pemisahan CO2 ya kita siap kerja sama," kata Erwin.

Erwin mengungkapkan, untuk pemisahan CO2 dengan gas yang dapat digunakan ditaksir akan memerlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu ExxonMobil menawarkan teknologi tersebut. Ia yakin teknologi Controlled Freeze Zone yang dimiliki ExxonMobil dapat digunakan di blok tersebut. Teknologi itu sudah diuji cobakan dan berhasil bisa memisahkan CO2.

"(Persentase pemisahan CO2) Wah saya tidak detil. Tapi kita punya teknologi itu. Kita punya di research center kita. sudah kita coba ya bisa," ungkap Erwin.


(SAW)


Tarif Kargo Udara Naik Ratusan Persen

Tarif Kargo Udara Naik Ratusan Persen

5 hours Ago

Tiga maskapai penerbangan yakni Garuda Indonesia, Lion Air dan Sriwijaya melakukan kebijakan me…

BERITA LAINNYA