Penjualan Online Bikin Target Subsidi LPG Meleset

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 Feb 2019 05:37 WIB
elpiji 3 kg
Penjualan <i>Online</i> Bikin Target Subsidi LPG Meleset
Elpiji 3KG. MI/Liliek.

Jakarta: Pemerintah saat ini masih kesulitan untuk menentukan berasan atau jumlah penerima subsidi liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg sehingga membuat  penyalurannya tidak tepat sasaran dan volumenya terus mengalami kenaikan.

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan hingga kini penerima atau pengguna LPG subsidi masih sulit diidentifikasi. Djoko mengatakan salah satunya yakni karena adanya penjualan melalui saluran online.

"Penerima sulit teridentifikasi terutama yang beli secara online," kata Djoko dalam rapat panitia kerja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 4 Februari 2019.

Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Pemasaran dan Ritel PT Pertamina (Persero) Mas'ud Khamid menjelaskan secara aturan memang tidak ada larangan untuk menjual LPG secara online. Namun dia mengatakan pihaknya menyalurkan LPG subsidi melalui agen.

"Dari agen ke pangkalan. Nah dari pangkalan mungkin yang online. Nanti kita lihat," tutur Mas'ud.

Menurut Mas'ud sebenarnya jika diperjualbelikan melalui online malah akan lebih jelas identitas penggunanya sebab akan ada alamat yang tertera sebagai penerima. "Ada alamat pengirimannya sepanjang itu di wilayah pangkalan," ujar dia.

Dia bilang LPG subsidi pada hakikatnua diperuntukkan untuk konsumen rumahnyangga, usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan nelayan. Namun pihaknya akan menindaklanjuti apabila ada kelompok lain yang ikut menikmati.

"Nanti kita ajak bicara, kita lihat transaksinya dia dominan dimana subsidi atau nonsubsidi. Tapi yang jelas kita jalankan aturan dulu," jelas Mas'ud.

Pertamina mencatat realisasi penyaluran subsidi LPG 3 kg sebagai berikut tahun 2013 4,403 juta metrik ton, 2014 4,994 juta metrik ton, 2015 5,566 juta metrik ton, 2016 6,004 juta metrik ton, 2017 6,293 juta metrik ton, 2018 6,552 juta metrik ton, serta 2019 diperkirakan sebeaar 6,978 juta metrik ton.



(SAW)