Indonesia jadi Guru bagi Ethiopia Belajar Kelistrikan

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 05 Dec 2017 10:15 WIB
listrikpembangkit listrikplnkementerian esdmtarif listrik
Indonesia jadi Guru bagi Ethiopia Belajar Kelistrikan
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri) didampingi Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (kanan) (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bersama Wakil Menteri ESDM Acrandra Tahar kemarin pada Senin, 4 Desember 2017 menerima kunjungan Menteri Air, Irigasi dan Ketenagalistrikan Ethiopia Seleshi Bekele. Dalam kesempatan itu, ketiganya membahas mengenai sektor energi.

Adapun salah satu tujuan kunjungan Delegasi Ethiopia ini adalah untuk mempelajari program pembangunan Indonesia di sektor ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan (EBT) khususnya panas bumi dan hydro.

Dalam kunjungan itu, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama, Dadan Kusdiana mengatakan, delegasi Ethiopia memberikan apresiasi sekaligus ingin menggali informasi langkah-langkah sukses Indonesia dalam meningkatkan percepatan rasio elektrifikasi.

"Pemerintah Ethiopia saat ini tengah melakukan restrukturisasi sektor kelistrikan dengan berfokus untuk meningkatkan rasio elektrifikasi," kata Dadan, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 5 Desember 2017.

Menanggapi itu, Menteri Jonan menjelaskan bahwa sepanjang dua tahun terakhir pemerintah memang fokus untuk meningkatkan rasio elektrifikasi yakni mulai dari pembangunan pembangkit, perluasan jaringan PT PLN, pembangunan pembangkit energi baru terbarukan off grid, dan program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Jonan mengungkapkan saat ini rasio elektrifikasi Indonesia mencapai 93,5 persen dengan kapasitas pembangkit listrik nasional sebesar 60,1 Gigawatt (GW) atau naik 7,1 GW dalam tiga tahun terakhir dibandingkan dengan di 2014 yang sebesar 53 GW.

Sementara untuk Pembangkit yang bersumber dari EBT, Jonan menerangkan bahwa sejak awal 2017 hingga saat ini, 1.186 megawatt (MW) pembangkit listrik yang energi primernya bersumber dari EBT telah ditandatangani. Hingga akhir tahun, kapasitasnya diharapkan mencapai 1.500 MW.

Usai mendapatkan penjelasan dari Menteri Jonan, Menteri Seleshi Bekele memberikan gambaran kondisi energi di Ethopia, termasuk pengembangan EBT. Ethopia memiliki jumlah penduduk sekitar 100 juta orang, memiliki tingkat rasio elektrifikasi sebesar 30 persen, dengan tingkat akses on-grid sekitar 20 persen dan tingkat akses off-grid sekitar 10 persen.

Pemerintah Ethiopia saat ini tengah melakukan restrukturisasi sektor kelistrikan dengan berfokus untuk meningkatkan rasio elektrifikasi. Sesuai dengan program elektrifikasi, Ethiopia memiliki visi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi 100 persen pada 2025.

Mendengar hal itu, Jonan menawarkan adanya kemungkinan penugasan tenaga ahli Indonesia untuk ikut melihat secara langsung kondisi listrik di Ethopia, termasuk potensi pengembangannya khususnya untuk pembangkit EBT. Selain itu, Jonan menawarkan bantuan teknis terkait penyusunan kontrak jual beli listrik dengan pihak swasta.

Menteri Seleshi Bekele mengucapkan terima kasih atas penawaran bantuan dari Menteri Jonan sambil mennyatakan minat untuk menjajaki kemungkinan berinvestasi pada sektor ketenagalistrikan di Indonesia.

Sebagai informasi, Ethiopia memiliki potensi energi yang kuat di kawasan Sub-Saharan African yang bersumber dari energi baru terbarukan, khususnya hydro power, energi surya, angin, dan panas bumi. Potensi energi terbarukan di Ethiopia mencapai 60.000 MW.

Ethiopia merupakan salah satu dari sedikit negara di kawasan Sub-Saharan African, yang semua pembangkitan listriknya dihasilkan (sekitar 4.300 MW) dari sumber daya energi baru terbarukan, sebagian besar berasal dari hydro power.


(ABD)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA