Pertamina-Eni Sinergi Pembangunan Green Refinery

   •    Rabu, 30 Jan 2019 20:25 WIB
pertamina
Pertamina-Eni Sinergi Pembangunan <i>Green Refinery</i>
Ilustrasi kilang minyak Pertamina. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Roma, Italia: PT Pertamina (Persero) bersama perusahaan migas asal Italia, Eni, kembali memperkuat kerja sama melalui penandatanganan term sheet CPO processing serta penandatanganan Head of Term Sheet of Joint Venture Agreement di Roma, Italia, Rabu, 30 Januari 2019.

Kerja sama ini menindaklanjuti nota kesepahaman yang telah ditandatangani Pertamina dengan Eni pada September 2018. Serta penandatanganan kesepakatan lanjutan pada Desember 2018.

Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif menyatakan penandatanganan term sheet CPO processing dan Head of Joint Venture antara keduanya adalah tonggak penting bagi pengembangan energi masa depan Indonesia yang akan beralih dari energi fosil menuju green energy.

Menurut dia kerja sama ini dilakukan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam dalam negeri, sekaligus merupakan upaya Pertamina untuk mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan keamanan energi nasional.

"Indonesia memiliki sumber green energy yakni minyak kelapa sawit yang melimpah, merupakan sumber daya alternatif untuk pengembangan green energy," ujar Budi, di Roma, Italia, Rabu, 30 Januari 2019.

Kerja sama CPO processing agreement dibutuhkan untuk dasar Pertamina melakukan processing CPO ke kilang ENI di Italia sehingga bisa menghasilkan HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) yang bisa digunakan sebagai campuran diesel fuel. Selain itu, JV framework agreement dibutuhkan sebagai dasar Pertamina melanjutkan diskusi tentang potensi pembangunan green refinery di Indonesia untuk memproduksi HVO di Indonesia.

Selain mengembangkan sumber energi dari minyak sawit (CPO), lanjut Budi, Pertamina juga akan terus memaksimalkan sumber daya terbarukan lainnya untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat, baik secara domestik maupun global.

"Pertamina saat ini telah berhasil mengembangkan green refinery pertama di Indonesia, dengan pilot project di Kilang Plaju, Sumatera Selatan yang beroperasi pada Desember 2018. Kilang ini menghasilkan green fuel, green elpiji, dan green avtur dengan pemanfaatan CPO hingga 7,5 persen," imbuh Budi.

Pertamina, menurut Budi, perlu melakukan kerja sama dengan perusahaan migas dunia yang sudah berpengalaman dalam pengembangan green energy untuk memproses CPO 100 persen menjadi green diesel maupun green avtur. Untuk itulah, pilihan yang tepat bekerja sama dengan Eni.

Kerja sama dengan ENI yang telah memahami teknologi Biorefineries di Italia dan berpengalaman mengembangkan EcofiningTM dengan UOP akan memastikan rencana pembangunan kilang ramah lingkungan di Indonesia dapat diwujudkan secepatnya.

Untuk mewujudkan kerja sama dengan Eni, Pertamina telah membentuk Komite Pengarah yang bertugas untuk mendalami peluang bisnis bersama dan membahas klausul yang akan disepakati yang akan menjadi rujukan dalam memastikan pembangunan proyek kilang ramah lingkungan layak dan memenuhi persyaratan.

Pertamina dan ENI memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan pembangunan green refinery (kilang ramah lingkungan) dengan tiga opsi yakni pertama melakukan konversi atas sebagian aset yang ada di Kilang Dumai menjadi green plant. Kedua mengerjakan konstruksi kilang baru ramah lingkungan yang berada di area Kilang Dumai. Ketiga melakukan konstruksi kilang baru ramah lingkungan di Kilang Plaju.

Penandatanganan kerja sama dilakukan antara Direktur Planning, Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan dengan Chief Refining & Marketing Officer Eni Giuseppe Ricci di Roma, Italia, dengan disaksikan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Menteri ESDM Ignasius Jonan. (Rieska Wulandari/Metro TV)

 


(AHL)