Kadin Minta Pemerintah Beri Insentif Tambahan untuk Kembangkan EBT

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 20 Apr 2017 15:15 WIB
energi terbarukan
Kadin Minta Pemerintah Beri Insentif Tambahan untuk Kembangkan EBT
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah menyediakan insentif lebih untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani mengatakan, tanpa insentif pelaku industri tidak akan mengembangkan EBT. Apalagi dengan mahalnya biaya pengembangan.

"Sebetulnya intinya pembangunan EBT itu mahal, kita mengharapkan insentif dari pemerintah," kata Rosan saat ditemui di Graha Bimasena, Jalan Dharmawangsa, Jakarta, Kamis 20 April 2017.

Rosan menjelaskan, untuk mengejar target penggunaaan EBT sebesar 23 persen di 2025, seharusnya pemerintah memberikan insentif lain selain perpajakan. Ia memberi contoh, insentif tersebut berupa kredit pinjaman yang lebih rendah.

Baca: Kadin: Minus Insentif, Swasta tak Tertarik Investasi EBT di Indonesia Timur

"Bukan pembebasan pajak. Tapi tambahan insentif, misalnya kalau kita masuk di EBT itu kredit pinjamannya lebih rendah, kalau 11 persen sampai 12 persen jadi lima persen kan disubsidi pemerintah jadi dicari insentif lainnya," jelas dia.

Ia menuturkan, pemberian insentif ini bisa menjadi penilaian apakah pemerintah benar-benar mendukung atau tidak dalam mengembangkan EBT. Hal itu dikatakannya karena jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia sedikit dalam pemberian insentif bagi pelaku usaha.

"Di negara lain kalau kita masuk di EBT itu insentifnya banyak sekali. Nah itu mungkin yang harus dicari jalan tengahnya," ujar dia.

Lalu, terkait tarif listrik berdasarkan Biaya Pokok Produksi (BPP) di wilayah pembangunan pembangkit yang tercantum pada Peraturan Menteri ESDM Nomor? 12 Tahun 2017, menurutnya bukannya meningkatkan investasi, justru membuat pelaku usaha tidak tertarik mengembangkan EBT.

"Keluar Permen yang membatasi tarif itu untuk berinvestasi di EBT itu jadi kurang menarik. Ini harus dicarikan solusinya. Oke, misalnya tarifnya ditentukan ada tidak insentif lain yang diberikan," pungkas dia.

 


(AHL)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

4 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA