Luhut: Investasi Listrik Jepang Terbesar di Indonesia

   •    Rabu, 11 Jan 2017 19:20 WIB
listrikindonesia-jepang
Luhut: Investasi Listrik Jepang Terbesar di Indonesia
Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. (FOTO: MTVN/Annisa Ayu Artanti)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Jepang merupakan negara yang paling besar berinvestasi kelistrikan di Indonesia.

"Untuk listrik, ternyata Jepang investasinya paling besar di Indonesia. Bukan Tiongkok lho," katanya di kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (11/1/2017).

Oleh karena itu, menurut dia, sektor kelistrikan tentunya akan menjadi salah satu yang akan dibahas dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Indonesia yang dijadwalkan pada 15 Januari 2017.

Luhut menyebut, investasi listrik Jepang di Indonesia mencapai sekitar USD12 miliar, baik itu sebagai pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP) maupun kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement and construction/EPC).

"Itu jumlahnya IPP 48 persen dan EPC 44 persen dari semua proyek," tuturnya.

Data tersebut, menurut Luhut, membantah banyaknya anggapan bahwa pemerintah kerap mengutamakan Tiongkok dalam segala hal. Tiongkok sendiri hanya menempati posisi kelima atau keenam dalam daftar negara yang menanamkan modal ke Indonesia.

"Investor terbesar di Indonesia masih tetap Singapura dan kedua itu Jepang. Tiongkok mungkin nomor lima atau enam. Jadi jangan selalu bilang Tiongkok terus," katanya.

Sebelumnya, Luhut mengaku ada sejumlah proyek strategis yang akan dibahas dalam pertemuan dengan PM Abe. Proyek tersebut antara lain Pelabuhan Patimban, kereta semicepat Jakarta-Surabaya serta finalisasi pengembangan Blok Masela.

Terkait Pelabuhan Patimban, diharapkan akan ada kesepakatan mengenai perusahaan Jepang yang akan bekerja sama dengan Pelindo II sebagai operator pelabuhan. Sedangkan mengenai proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya, diharapkan akan ada penandatanganan uji kelayakan antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan pihak Jepang.

"Kami berharap mudah-mudahan Masela juga difinalisasi," katanya lantaran pemerintah dan kontraktor blok itu (Inpex Masela Ltd) telah menyepakati sejumlah ketentuan termasuk biaya penggantian operasi atau cost recovery.


(AHL)