KESDM: Dua Smelter Sudah Dibangun di Semester I-2017

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 10 Aug 2017 09:45 WIB
kementerian esdmsmelter
KESDM: Dua <i>Smelter</i> Sudah Dibangun di Semester I-2017
Gedung Kementerian ESDM (Foto: dokumentasi Setkab)

Mterotvnews.com, Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter pada semester I-2017 sudah terbangun sebanyak dua smelter. Pembangunan ini diharapkan memberi efek positif bagi peningkatan nilai tambah.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, Bambang Gatot menyampaikan, pembangunan smelter pada semester I-2017 telah mencapai target. Dari target empat smelter yang akan dibangun pada 2017, dua smelter telah dibangun hingga tengah 2017.

"(Komoditas dua smelter) kebanyakan nikel. Kita kan banyakan nikel semua ini. Karena bisa ditebak, untuk bauksit itu hanya CGA," kata Bambang, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Bambang menjelaskan keberadaan smelter tersebut sedikitnya sudah berkontribusi terhadap realisasi investasi sektor minerba semester I-2017 yang tercatat USD2,5 miliar dari target 2017 sebesar USD6,9 miliar. "Yang tambahan baru smelter, tapi tidak banyak. Kecuali kalau nanti ada Amman dan Freeport, itu mungkin besar," ucap dia.

Sebanyak empat smelter yang ditargetkan selesai pada tahun ini adalah milik PT Sumber Suryadaya Prima (pasir besi) dan PT Kapuas Prima Coal (seng) yang diperkirakan akan selesai konstruksi Desember 2017.

Kemudian smelter milik PT Mulia Pacific Resources, PT Itamatra Nusantara, dan PT Bumi Konawe Abadi (nikel) yang diperkirakan akan mulai berproduksi pada September 2017, dan smelter milik PT Ifishdeco (nikel) yang akan masuk tahap uji coba (commissioning) pada September 2017.

Realisasi Ekspor Nikel (ore)

Kemudian Bambang melanjutkan untuk realisasi ekspor nikel (ore) pada semester I-2017 baru mencapai 403 ribu ton, dari rekomendasi ekspor sebesar 8,16 juta ton. Ekspor ore diberikan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan yang serius membangun smelter. Bambang mengibaratkan, ekspor tersebut sebagai bentuk insentif pemerintah terhadap perusahaan.

"Ekspor ore itu diberikan untuk mengetahui dan memberikan insentif kepada yang serius membangun (smelter). Karena kalau dia tidak memenuhi progress, (rekomendasi ekspornya) dicabut. Siapa yang serius, sesuai kapasitas smelter dia akan dapat diberikan ijin ekspor," pungkas dia.


(ABD)