Pertamina Akui Penurunan Kinerja Keuangan di 2018

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 06 Jun 2018 12:04 WIB
pertamina
Pertamina Akui Penurunan Kinerja Keuangan di 2018
Ilustrasi gedung Pertamina. (FOTO: Antara/Andika Wahyu)

Jakarta: PT Pertamina (Persero) mengakui akan terjadi penurunan performa kinerja keuangan pada 2018 seperti disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno akhir pekan lalu.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan meski akan mengalami penurunan pendapatan serta laba di 2018 perusahaan akan terus melakukan upaya efisiensi.

"Ya mungkin akan ada penurunan. Tapi kita harus lihat kita ada inisiatif efisiensi, terus kita cari kemitraan dan lain-lain," kata Arief saat ditemui usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR-RI di Komplek Parlementer Senayan Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018.

Namun, Arief tidak menyebut taksiran persentase penurunan performa kinerja keuangan perusahaan pelat merah tersebut. Ia hanya mengatakan masih terus melihat perkembangan melihat harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

"Kita harus lihat dulu ICP-nya berapa," ucap dia.

Baca: Menteri Rini Taksir Keuangan Pertamina tak 'Secantik' Tahun Lalu

Begitu juga dengan kinerja keuangan pada kuartal I-2018. Arief belum bisa menyebutkan gamblang mengenai kinerja keuangan Pertamina.

Ia menjelaskan banyak hal yang masih dibahas sehingga kinerja keuangan perusahaan itu belum bisa dipublikasikan. Salah satunya mengenai subsidi, katanya, besaran subsidi yang akan diberikan oleh pemerintah kepada Pertamina akan berdampak pada keuangan perusahaan keseluruhan.

"Itu kita harus lihat kan ada diskusi mengenai subsidi. Misalnya subsidi bisa didapat, kan beda lagi angkanya," jelas dia.

Seperti diketahui pemerintah berencana menaikkan anggaran subsidi solar dari semula Rp500 per liter menjadi Rp2.000 per liter.

Pada akhir pekan lalu, Rini Soemarno mengatakan kinerja keuangan Pertamina tahun ini tidak sebaik 2017. Hal itu disebabkan Pertamina harus menjalankan program kerakyatan yakni menahan harga premium yang seharusnya tidak masuk dalam harga keekonomian.

Harga premium dibuat tetap Rp6.450 per liter hingga 2019. "Tahun ini mungkin menurun karena kita buat program supaya masyarakat tidak terbebani. Kita tidak naikan premium agar tidak membebankan masyarakat," kata Rini.


(AHL)