Pemerintah Sebut Pertamina Batalkan Serap Gas Blok Masela

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 13 Jun 2017 08:45 WIB
blok masela
Pemerintah Sebut Pertamina Batalkan Serap Gas Blok Masela
Gedung Pertamina (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Pertamina (Persero) sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengelola gas dari Blok Masela. Meski dengan mengelola atau memakai gas tersebut diprediksi akan berpengaruh pada pengurangan impor elpiji.

Direktur Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam mengatakan, pada rapat koordinasi yang diadakan di Kemenko Kemaritiman kemarin, perusahaan pelat merah itu membatalkan menyerap gas Blok? Masela.

Padahal, menurut Khayam, jika Pertamina masuk dan mengambil bagian dari gas blok Masela maka perusahaan pelat merah itu bisa mengembangkan industri petrokemikal khususnya Dimethyl Ether (DME) yang bisa mengurangi impor elpiji di masa depan.

"Kemudian Pertamina tidak jadi ambil gasnya. Kita itu dorong Pertamina bisa masuk juga masuk ke petrokemikal terutama mungkin kalau mereka masuk ke DME. Jadi itu kan juga signifikan untuk kurangi impor elpiji. Tapi langsung? dijawab Bu Yenni tidak usah," tutur Khayam, di sela-sela diskusi IPA di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin 12  Juni 2017.

Lain hal dengan PT PLN (Persero), Khayam mengungkapkan, dalam rapat itu, perusahaan listrik itu menyanggupi untuk bisa menyerap 60 MMSCFD gas blok tersebut. Rencananya alokasi gas akan digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik pendukung kelistrikan untuk komplek industri yang akan dibangun di Masela.

Meski demikian, Khayam menambahkan, pihaknya akan berdiskusi lagi dengan pemerintah mengenai pembagian alokasi tersebut. Paling tidak, pada Rabu 14 Juni nanti sudah ada keputusan terkait alokasi gas.

"Jadi pemerintah selaraskan yang 474 MMSCFD itu komposisinya dan tidak usah berlebih tidak usah plus 60 MMCFD, terus ini prosedurnya juga dikasih waktu pendek jadi apakah HoA, atau GSA atau gas purchase agreement," kata dia.

Sementara untuk alokasi gas tiga perusahaan lain, Khayam menyebutkan, kebutuhan gas untuk PT Pupuk Indonesia sebesar 240 MMSCFD, PT Kaltim Methanol Industri sebesar 130 MMSCFD, dan PT Elsoro Multi Pratama 100 MMDCFD. "Masih sama," pungkas dia.


(ABD)