Banyak Ahli Perminyakan Alih Profesi jadi Bankir

Annisa ayu artanti    •    Jumat, 19 May 2017 14:48 WIB
migas
Banyak Ahli Perminyakan Alih Profesi jadi Bankir
Ilustrasi. (FOTO: MTVN/Ardi Yudanto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ikatan Ahli Perminyakan Indonesia (IATMI) menyatakan lesunya harga minyak dunia sangat berdampak pada industri minyak dan gas (migas). Terutama pada sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dibidang perminyakan.

Ketua Umum IATMI Tutuka Ariadji mengatakan, banyak lulusan jurusan teknik perminyakan dan ahli perminyakan beralih profesi menjadi pekerja di industri perbankan dan asuransi.

"Mereka tidak lagi bekerja di perminyakan, banyak yang kerja di bank asuransi dan tempat lain di luar perminyakan," kata Tutuka dalam diskusi di acara IPA Convex ke-41, di JCC, Senayan, Jumat 19 Mei 2017.

Ia mengakui, kondisi saat ini cukup susah untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang. Ada beberapa lulusan dan ahli perminyakan yang tetap berusaha bekerja sejalan dengan kompetensi yang mereka dimiliki. Namun, kebanyakan mereka berkorban hingga tidak digaji karena hanya bekerja disuatu organisasi perminyakan saja.

"Ada yang bekerja di organisasi sosial tanpa gaji untuk tetap di teknik perminyakan. Masih di perminyakan tapi tidak ada companies-nya. Ini banyak jumlahnya," ucap dia.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Rosalida Raguwati. Ia mengatakan kondisi yang sama juga terjadi kepada lulusan jurusan geofisika. Sebagian dari lulusan tersebut sengaja memilih pekerjaan yang tidak sejalan dengan studi yang dijalankan saat kuliah.

"Di HAGI, kalau untuk kondisi lulusan geofisika kita ada suasana yang sama," ucap Rosalida.

Alumnus Geofisika Universitas Gadjah Mada, Wisnu Sentiko Kurniawan contohnya, dia sekarang beralih profesi sebagai First Assistant Manager, Micro Banking Bank Mandiri di Bali. Wisnu bercerita ketika dia lulus pada tahun 2015 sangat susah mencari kerja di bidang migas.

"Kondisi minyak turun, at least tidak ada lowongan migas itu. Waktu magang di Petrochina dan Chevron, karena harga minyak turun juga tidak ada buka recruitment," ujar dia.

Hal yang sama juga diutarakan Alumnus Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, Valdirama Merzaputra mengatakan, mau tidak mau dirinya harus bekerja meski tidak di industri migas. Saat ini dia bekerja sebagai Sales Support di Toyota. Ia masih menunggu harga minyak kembali tinggi sehingga ia bisa bekerja sesuai dengan apa yang telah dipelajari di bangku kuliah.

"Cari kerja susah di minyak, soalnya harga minyak turun dari sekitar USD100 per barrel jadi USD30an per barrel. Akhirnya Ahamdulillah dapat kerja di Toyota Tsusho," ungkap Valdi.


(AHL)