Holding BUMN Bisa Memperkaya Aset

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 Dec 2017 17:43 WIB
holding bumn
<i>Holding</i>  BUMN Bisa Memperkaya Aset
Inalum. ANT/Septianda Perdana.

Jakarta: Pemerintah sedang menggencarkan pembentkan induk usaha (holding) badan usaha milik negara (BUMN). Pembentukan holding ditujukan salah satunya untuk membuat perusahaan raksasa milik Indonesia agar mampu bersaing di dunia.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengatakan holding bisa memperkaya aset-aset menjadi lebih tinggi.

Isa mencontohkan, dalam holding yang baru saja terealisasi di sektor pertambangan dengan menjadikan PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum (Persero) sebagai cangkang, maka aset yang Inalum dipastikan akan berkembang dalam satu-dua tahun mendatang.

"Holding tambang memang saham masuk ke PT Inalum, tapi nilai PT Inalum di laporan keuangan menjadi lebih besar, tapi saya yakin setahun dua tahun lagi mendapatkan nilai leverage yang lebih baik," kata Isa dalam diskusi bertajuk mengapa perlu holding BUMN di Kominfo, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Desember 2017.

Isa mencontohkan, dalam pengelolaan aset dan keuangan secara konvensional, biasanya terjadi pada belaja yang dilakukan kementerian dan lembaga (K/L), setiap Rp1 yang dibelanjakan, maka yang dihasilkan sama jumlahnya Rp1 juga.

Namun, jika melalui BUMN yang pengelolaannya dimanfaatkan secara benar, maka setiap belanja Rp1 bisa menciptakan hasil Rp2 atau bahkan lebih. Hal tersebut yang dinamakan leverage. Isa bilang, leverage bisa mengurangi beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Yang dari APBN bisa digunakan untuk yang lain, kita masih punya tugas banyak yakni membangun daerah pinggiran, pemerataan yang secara komersial tentu enggak mudah dilakukan BUMN," tutur dia.

Adapun dalam setiap sektor, lanjut mantan Staf Ahli Menkeu bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal ini, setiap sektor punya kapasitas untuk me-leverage asetnya masing-masing, atau tak bisa digeneralisasi.

Namun yang pasti, tambah Isa, yang diwanti-wanti adalah leverage yang dilakukan tak berlebihan (over), tetap dalam risk management. Misalnya, leverage yang dilakukan perbankan, jika berlebihan maka yang dibebankan adalah masyarakat.

"Kementerian BUMN mengatakan hati-hati kami enggak ingin ada over leverage di perbankan. Tapi kalau PT Semen bisa leverage lima kali lipat itu bagus. Jadi tentunya masing-masing punya ukuran tersendiri," jelas dia.

 


(SAW)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA