Pertamina Sebut Premium Langka Akibat Perubahan Pasar

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 11 Apr 2018 07:44 WIB
pertaminastok bbmharga bbm
Pertamina Sebut Premium Langka Akibat Perubahan Pasar
Gedung Pertamina (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta: PT Pertamina (Persero) membantah adanya upaya pengurangan pasokan premium disejumlah daerah yang menyebabkan Bahan Bakar Minyak (BBM) berkadar RON 88 tersebut langka. Pertamina menyebutkan kelangkaan BBM tersebut dikarenakan migrasi konsumen dari premium ke pertalite.

Direktur Pemasaran Pertamina M Iskandar menjelaskan kondisi konsumsi premium di Indonesia saat ini mengikuti pergerakan pasar di mana ketika selisih harga antara premium dan pertalite kecil maka masyarakat akan beralih menggunakan pertalite.

Namun, ketika harga minyak dunia naik yang kemudian berimplikasi pada naiknya harga pertalite maka masyarakat berbondong-bondong kembali mengonsumsi premium. Ketika masyarakat serempak pindah mengonsumsi premium, tidak ditampik terkesan premium langka. Sebab sering kali SPBU kehabisan stok premium.

"Enggak (menahan penjualan premium) itu kan pasar," kata Iskandar, saat ditemui di Kompleks Parlementer Senayan, Jakarta, Selasa, 10 April 2018.

Saat ini, pertalite ditetapkan di Rp7.800 per liter. Sedangkan premium untuk Jawa Madura dan Bali (Jamali) Rp6.550 per liter dan di luar Jamali Rp6.450 per liter. Selisih harga lebih dari Rp1.000 per liter yang membuat masyarakat melakukan migrasi dari pertalite ke premium.

Namun, Iskandar menjelaskan, migrasi pengguna pertalite belum signifikan. Hanya didistribusikan kuota premium di daerah saja yang belum menyesuaikan. Saat ini pihaknya tengah melakukan penyesuaian premium sesuai dengan tingkat kebutuhan di berbagai daerah.

"Sekarang naik lagi (premiumnya) sekarang sudah ditambah lagi," ucapnya.



Senada dengan Pertamina, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menuturkan, kenaikan harga pertalite membuat masyarakat kembali beralih ke premium. Ia meminta Pertamina menambah kuota premium di setiap SPBU agar tidak terjadi kelangkaan.

"Masyarakat mau kembali ke premium ya sudah kita salurkan premium. Toh stoknya masih ada," kata Djoko.

Djoko menjelaskan, kuota distribusi premium tahun ini memang menurun dibandingkan dengan di 2017. Hal ini lantaran penyerapan premium tahun lalu lebih rendah dibandingkan kuota yang ditetapkan.  "Penurunan Jamali sekitar 50 persen dan non Jamali 35 persen," sebut dia.

Lebih lanjut, Djoko menyebutkan, berdasarkan data yang ada tercatat kuota premium tahun lalu sebesar 12,5 juta kiloliter (kl) sedangkan realisasinya 7,5 juta kl. Pemerintah menetapkan kuota premium sama dengan realisasi untuk tahun ini.  

Data pendistribusian premium di Januari hingga Maret 2017 di Jamali tercatat 1,54 juta kl dan non Jamali sebesar 2 juta kl. Sedangkan periode yang sama tahun ini hanya mencapai 774.435 kl untuk Jamali dan 1,3 juta kl untuk non Jamali.

 


(ABD)