Energi Baru Terbarukan Disebut Sebuah Keniscayaan

Anggi Tondi Martaon    •    Rabu, 12 Sep 2018 19:14 WIB
berita dpr
Energi Baru Terbarukan Disebut Sebuah Keniscayaan
Wakil Ketua DPR RI Utut Adianto bersama Pimpinan DPR saat hadir di acara forum The 2nd World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali -- Foto: dok DPR RI

Jakarta: Energi Baru Terbarukan (EBT) merupakan harapan baru dunia terhadap kebutuhan energi. Meski diklaim lebih baik daripada fosil, namun pengembangan EBT masih menemui sejumlah kendala.

Wakil Ketua DPR RI Utut Adianto menilai EBT sebagai sebuah keniscayaan. Pasalnya, masalah energi baru dan terbarukan bukanlah isu baru. Hanya saja belum ditemukan cara paling efektif untuk melakukannya.

“Yang penting saat ini kita sudah mulai bekerja. Saat ini lifting minyak kita juga sudah semakin kecil, dan kita belum punya alternatif. Peta solusinya sudah ada, hanya implementasi untuk menjalankannya yang belum ada,” kata Utut saat dikutip dari dpr.go.id, Rabu 12 September 2018.

Politikus PDI Perjuangan itu mengakui, implelementasi EBT merupakan hal yang tidak mudah dilakukan. Namun, dia berkomitmen pengembangan EBT akan ditindaklanjuti nantinya bersama pemerintah.

“Semua ini adalah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi yang hadir pada acara ini terdiri dari berbagai negara. Kalau untuk pemerintah, kita akan lebih kuat (membahasnya) ketika rapat di dalam komisi terkait,” ungkap Utut.

Lebih jauh, pimpinan DPR RI Koordinator Bidang Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) dan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) itu menjelaskan, forum yang diselenggarakan di Bali pada 12-13 September 2018 merupakan bagian dari bentuk peran aktif Indonesia dalam kancah internasional. Di mana Indonesia menjadi bagian dari negara-negara yang tergabung dalam G20.

“Kita adalah masyarakat internasional yang aktif. Perihal implementasi dari hasil deklarasi acara ini ke depannya bagaimana, maka itu adalah lain hal. Sebab deklarasi dalam politik itu tidaklah mudah,” pungkasnya.


(Des)